GRESIK, KOMPAS.com - Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara, Mustafa Abubakar menyatakan persoalan pupuk sangat khas dan kronik. Persoalan itu menyangkut distribusi, kelangkaan dan masalah pasokan kebutuhan gas belum tentu dapat terpenuhi.
Menurut Mustafa saat melakukan kunjungan kerja ke PT Petrokimia Gresik, Selasa (16/2/2010) petang, masalah gas bahan baku pupuk harus mendapat perhatian serius karena menyangkut ketahanan pangan karena belum adanya kepastian soal pasokan gas. Dia berharap kontrak ekspor gas yang habis sebelum diperpanjang mengutamakan kebutuhan gas domestik khususnya untuk bahan baku pupuk.
Kebutuhan gas untuk PLN bisa dialihkan dengan subtitusi bahan baku lain seperti geothermal. Konsumsi gas yang tidak terlalu banyak dialokasikan untuk menunjang pupuk. Ladang gas diharapkan mendukung bahan baku pupuk termasuk Hess, Mobil Cepu Limiter dan lainnya. "Kami akan memberikan payung kebijakan dengan berkoordinasi dengan Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral," kata Mustafa.
Dia menegaskan kebutuhan gas untuk pupuk berbeda dengan untuk kebutuhan Perusahaan Listrik Negara ataupun konversi energi dari minyak ke gas elpiji. Kebutugan gas dalam pabrik pupuk sebagai bahan baku, sementara di PLN bisa digantikan dengan geothermal dan batu bara. Ketergantungan bahan baku impor harus dikurangi dengan menggali potensi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan pupuk.
Selain masalah pasokan gas, masalah distribusi pupuk juga masalah kronis. Pola sistem distribusi tertutup tahun 2009 diharapkan bisa lebih baik pada 2010 sampai betul-betul efektif. "Apa yang sudah baik selama ini perlu dipertahankan, dan harus bisa lebih efisien. Industri pupuk dan baja termasuk yang perlu meningkatkan kualitas, efisiensi dan daya saing," tutur Mustafa.
Direktur PT Petrokimia Gresik, Arifin Tasrif menjelaskan saat ini ada 21 pabrik di Petrokimia Gresik terdiri 16 pabrik pupuk dengan kapasitas 4,33 juta ton dan lima pabrik non pupuk dengan kapasitas 1,647 juta ton untuk produksi amoniak, belerang, bahan baku semen dan lainnya. PT Petrokimia memiliki 506 distributor pupuk, 18.711 pengecer dan 177 gudang penyangga dengan 147 sales supervisor.
PT Petrokimia menghadapi masalah keterbatasan pasokan gas yang pada 2010-2011 turun signifikan akibat penurunan produksi gas produksi sumur Pagerungan oleh Kangean Energi Indonesia. Selain itu kontrak pasokan gas dengan Kodeco Excess Gas dan PGN berakhir pada Oktober 2010 sedangkan kontrak dengan Kodeco Existing gas pada Mei 2011. Kontrak dengan Kodeco dan PGN diperpanjang. "Upaya penyelesaian internal dilakukan dengan konversi energi batu bara di pabrik SP-36 dan pembangkit listrik," kata Arifin.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang