Meneg BUMN: Persoalan Pupuk Sangat Khas

Kompas.com - 16/02/2010, 21:26 WIB

GRESIK, KOMPAS.com - Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara, Mustafa Abubakar menyatakan persoalan pupuk sangat khas dan kronik. Persoalan itu menyangkut distribusi, kelangkaan dan masalah pasokan kebutuhan gas belum tentu dapat terpenuhi.

Menurut Mustafa saat melakukan kunjungan kerja ke PT Petrokimia Gresik, Selasa (16/2/2010) petang, masalah gas bahan baku pupuk harus mendapat perhatian serius karena menyangkut ketahanan pangan karena belum adanya kepastian soal pasokan gas. Dia berharap kontrak ekspor gas yang habis sebelum diperpanjang mengutamakan kebutuhan gas domestik khususnya untuk bahan baku pupuk.

Kebutuhan gas untuk PLN bisa dialihkan dengan subtitusi bahan baku lain seperti geothermal. Konsumsi gas yang tidak terlalu banyak dialokasikan untuk menunjang pupuk. Ladang gas diharapkan mendukung bahan baku pupuk termasuk Hess, Mobil Cepu Limiter dan lainnya. "Kami akan memberikan payung kebijakan dengan berkoordinasi dengan Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral," kata Mustafa.

Dia menegaskan kebutuhan gas untuk pupuk berbeda dengan untuk kebutuhan Perusahaan Listrik Negara ataupun konversi energi dari minyak ke gas elpiji. Kebutugan gas dalam pabrik pupuk sebagai bahan baku, sementara di PLN bisa digantikan dengan geothermal dan batu bara. Ketergantungan bahan baku impor harus dikurangi dengan menggali potensi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan pupuk.

Selain masalah pasokan gas, masalah distribusi pupuk juga masalah kronis. Pola sistem distribusi tertutup tahun 2009 diharapkan bisa lebih baik pada 2010 sampai betul-betul efektif. "Apa yang sudah baik selama ini perlu dipertahankan, dan harus bisa lebih efisien. Industri pupuk dan baja termasuk yang perlu meningkatkan kualitas, efisiensi dan daya saing," tutur Mustafa.

Direktur PT Petrokimia Gresik, Arifin Tasrif menjelaskan saat ini ada 21 pabrik di Petrokimia Gresik terdiri 16 pabrik pupuk dengan kapasitas 4,33 juta ton dan lima pabrik non pupuk dengan kapasitas 1,647 juta ton untuk produksi amoniak, belerang, bahan baku semen dan lainnya. PT Petrokimia memiliki 506 distributor pupuk, 18.711 pengecer dan 177 gudang penyangga dengan 147 sales supervisor.

PT Petrokimia menghadapi masalah keterbatasan pasokan gas yang pada 2010-2011 turun signifikan akibat penurunan produksi gas produksi sumur Pagerungan oleh Kangean Energi Indonesia. Selain itu kontrak pasokan gas dengan Kodeco Excess Gas dan PGN berakhir pada Oktober 2010 sedangkan kontrak dengan Kodeco Existing gas pada Mei 2011. Kontrak dengan Kodeco dan PGN diperpanjang. "Upaya penyelesaian internal dilakukan dengan konversi energi batu bara di pabrik SP-36 dan pembangkit listrik," kata Arifin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau