JEPANG, KOMPAS.com — Pendapatan Yamaha dari penjualan 2009 atau revenue mengalami penurunan 28,1 persen. Penyebabnya adalah krisis keuangan sehingga prinsipal sepeda motor terbesar kedua di dunia itu akan memangkas ongkos produksi dan menata kembali manajemen.
Akibat kerugian tersebut, Yamaha akan memangkas 200 tenaga kerja di Amerika Serikat sebagai tambahan dari PHK terhadap 800 pekerja sejak Oktober tahun lalu. Merek berlambang garpu tala ini juga berencana menutup dua pabrik di luar Jepang dan lima di dalam negeri. Demikian dilansir autoevolution.com, Selasa (16/2/2010).
Pada 2009, Yamaha kehilangan pendapatan 2,4 miliar dollar AS (sekitar Rp 22,3 triliun), tetapi tetap berhasil mempertahankan peringkatnya sebagai produsen sepeda motor terbesar kedua di dunia. "Perusahaan tengah memperluas jangkauan dengan mereformasi landasan struktural, yakni mengetahui kemampuan manufaktur, jumlah tenaga kerja, dan pengurangan ongkos produksi akibat pengalaman sebelumnya," ungkap pihak Yamaha.
Yamaha yakin, langkah bisnis ini bakal mampu mengembalikan keuntungan perusahaan dengan ditopang peningkatan penjualan. Tahun ini, target jualan di seluruh dunia diprediksi akan naik 8,4 persen atau menyentuh 13,9 miliar dollar AS.
Untuk pasar motor, Yamaha yakin bahwa target penjualan akan melonjak 12 persen menjadi 6,55 juta unit. Khusus pasar Asia di luar Jepang, penjualan juga diprediksi naik 14 persen menjadi 5,69 juta unit.
Sementara itu, total pasar motor di belahan dunia lain, seperti di Amerika Utara, justru diprediksi anjlok hingga 39 persen atau 56.000 unit. "Permintaan di pasar Eropa dan AS masih belum pulih untuk beberapa waktu ke depan. Meski demikian, situasi di sekitar Yamaha Motor Group diharapkan kondusif," lanjut pihak Yamaha.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang