Bos Jamsostek dan Koleksi Ribuan Dasi

Kompas.com - 17/02/2010, 12:07 WIB

KOMPAS.com — Direktur Utama PT Jamsostek (Persero) Hotbonar Sinaga selalu tampil necis dalam setiap acara yang dihadirinya, lengkap dengan jas dan dasi yang selalu menjuntai di lehernya. Siapa sangka, bos perusahaan pelat merah itu mempunyai koleksi lebih dari 1.000 helai dasi.

Saat berbincang soal koleksinya tersebut, mata Hotbonar tampak berbinar dan bersemangat. Koleksi dasi yang kini tersimpan rapi di rumahnya itu mempunyai sejarah panjang. 

Kegemaran Hotbonar pada dasi berawal saat masih kuliah, bertahun-tahun silam. "Dulu masih pinjam sama Babe karena belum bisa beli sendiri," kelakar Hotbonar.

Kecintaannya terhadap dasi berlanjut saat bekerja. Sewaktu menjabat sebagai managing director pada sebuah perusahaan broker asuransi yang berasosisasi dengan broker Amerika (Johnson Higgins) tahun 1986, Hotbonar mulai serius dengan koleksi dasinya.

Saat itu dia mulai rajin membeli dasi sebagai salah satu perlengkapan "perangnya" saat bekerja. "Jadi direktur, kan, harus keren," lanjutnya.

Untuk urusan motif, Ayah dua anak itu termasuk pria romantis. Hal tersebut disebabkan Bonar, beginilah pria itu akrab disapa, merupakan salah satu pria pencinta motif bunga. Alasannya, dia mengaku karena motif bunga cenderung meriah sehingga bisa membuatnya tampak lebih muda. "Karena meriah, jadi untuk menipu umur," tuturnya sambil tersenyum.

Kecintaannya terhadap motif bunga sering kali membuat orang lain berpandangan negatif. Sampai-sampai putri kesayangannya enggan jika harus bepergian bersama Bonar. "Takut dikira jalan sama om-om," ungkap Bonar, menirukan kata-kata putrinya, sambil tertawa.

Namun, bukan berarti koleksi dasi Bonar mutlak bermotif bunga. Beberapa motif dasi lain juga menjadi incarannya. Bahkan, dasi dengan motif kartun juga dimilikinya. Namun, untuk motif yang satu itu jarang dikenakannya. "Jarang dipakai karena malu," ujarnya.

Satu hal yang tidak pernah luput dari Bonar saat mengenakan dasi adalah cuff link atau penjepit yang dipasang pada lengan baju. Karena itulah, ayah dua anak ini selalu memastikan adanya lubang untuk memasang cuff link pada kemejanya. Jika tidak, ia akan melubanginya sendiri dengan cutter atau benda tajam lainnya. Karena itulah, koleksi cuff link Bonar tidak kalah banyaknya dengan jumlah dasinya.

Tentu saja, berburu dasi merupakan salah satu kegemaran Bonar. Pria berdarah Batak ini sangat tergila-gila dengan merek terkenal. "Saya akui, saya memang gila merek," cetusnya.

Sederet merek terkenal beserta plus-minusnya pun disebutkannya dengan fasih. Versace, Leonard, Cartier, Loewe, Louis Vuitton sudah tidak asing lagi bagi Bonar. Dasi terbaik, menurut dia, dasi keluaran Louis Vuitton. "Karena segitiganya mantap dan tidak mengkeret," katanya sambil menunjuk dasi yang dikenakannya.

Untuk buatan lokal, Bonar mengaku belum pernah mencobanya. Bahkan, hampir semua dasi miliknya dia beli di luar negeri.

Bonar mengaku tidak pernah menyiapkan anggaran khusus untuk berburu dasi. Hanya, setiap kali berbelanja ia selalu menyempatkan diri untuk mencari. Bila tidak menemukan barang buruannya, ia tidak memaksa untuk membeli. Meski begitu, sekali belanja, Bonar bisa menghabiskan Rp 5 juta untuk membeli dasi. "Belinya pakai kartu kredit, bayarnya juga nyicil," ujarnya sambil tertawa.

Dalam belanja, rupanya Bonar memiliki kiat tersendiri. Pria kutu buku ini selalu berburu sale atau program potongan harga. "Sayang, dasi Louis Vuitton jarang sale," ungkap pria pengunjung setia Rodeo Drive, Singapura, itu kecewa. 

Ruang khusus dasi

Banyaknya koleksi dasi Bonar yang mencapai ribuan helai tentu membutuhkan tempat ekstra. Untuk itu, Mantan Direktur Utama Asuransi Berdikari ini menyiapkan ruang khusus untuk koleksi dasinya.

Ruang tersebut dia pilah menjadi dua dan dibedakan berdasarkan intensitas pemakaiannya. Yang pertama, khusus untuk dasi yang sering dipakainya dia tempatkan pada ruang di rumah depan. Lainnya, di rumah belakang dia sediakan untuk menempatkan dasi yang sudah out list atau jarang dipakainya.

Uniknya, selama ini Bonar mengaku tidak pernah mencuci dasi miliknya. Untuk perawatan, hanya tinggal dimasukkan ke dalam lemari dengan cara digantung dan disemprot dengan cairan khusus.

Menurut dia, hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga agar dasi tetap awet. "Kalau kena noda makanan atau hujan, biasanya dasi tersebut tidak pernah saya pakai lagi," tuturnya.

Tak hanya terbatas pada dasi, Bonar memang sangat memerhatikan penampilannya. Adatnya, dasi yang dikenakan dipadukan dengan warna pakaian, setelan celana dan jas yang digunakan, hingga kaus kaki dan sepatunya. Usut punya usut, anak kelima dari 8 bersaudara ini ternyata mempunyai trik jitu untuk mempertahankan penampilan. Dia selalu menyiapkan sendiri dasi yang akan dikenakannya pada malam sebelumnya. Lengkap dengan setelan jas dan seperangkatnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau