Cukai Rokok Naik, Masyarakat Lebih Sehat?

Kompas.com - 17/02/2010, 17:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kenaikan tarif cukai rokok memang tidak serta-merta menghentikan kebiasaan orang untuk merokok. Namun, naiknya harga jual eceran rokok sebagai imbas dari tingginya cukai diharapkan akan mengurangi jumlah perokok pemula dan perokok dari rumah tangga miskin.

Data Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menunjukkan, banyak penduduk miskin yang membelanjakan penghasilannya untuk membeli rokok dan tembakau. "Pengeluaran untuk rokok hanya kalah oleh anggaran untuk belanja beras," kata Dr Sonny Harry Harmadi, Ketua Lembaga Demografi FEUI.

Pada rumah tangga perokok termiskin, persentase pengeluaran tembakau dan sirih terhadap total pengeluaran berada di posisi kedua, sementara untuk rumah tangga perokok terkaya pengeluaran untuk tembakau dan sirih berada di posisi keenam.

"Jika anggaran untuk beli tembakau ini dialihkan untuk membeli makanan yang bergizi, mereka jadi lebih sehat sehingga tidak perlu mengeluarkan uang untuk berobat," papar Sonny.

Kenaikan harga jual eceran rokok juga diharapkan akan mengurangi daya beli perokok pemula. "Kalau harganya mahal, mungkin anak-anak tak akan mampu membeli," ujar Sonny.

Hasil Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan Departemen Kesehatan tahun 2007 menunjukkan, sebanyak 20 persen perokok mulai merokok sebelum usia 14 tahun. Namun, pada kelompok usia 15-24 tahun, 82,3 persen mengaku sudah merokok sebelum usia 24 tahun.

Ketua Komisi Pengendalian Tembakau Prof Farid A Moeloek mengatakan bahwa rokok berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat. "Kemiskinan, kebodohan, dan penyakit merupakan awal dari kehancuran ekonomi bangsa," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau