KOMPAS.com — Inggris dan Israel sedang mengarah ke hubungan diplomatik yang sensitif setelah mencuat dugaan adanya peniruan paspor Inggris oleh agen Mossad dalam misi pembunuhan terhadap komandan militer Hamas.
Kementerian Luar Negeri Inggris, sebagai dilansir Telegraph, Rabu (17/2/2010), kini menyelidiki bagaimana identitas enam warga Inggris yang tidak bersalah, tiga dari mereka tinggal di Israel, digunakan oleh agen intelijen yang diduga melakukan pembunuhan terhadap tokoh Hamas. Hamas, kelompok Islam yang mengontrol Gaza, menyatakan, Mossad, lembaga intelijen Israel, telah melakukan pembunuhan terhadap Mahmoud al-Mabhouh, yang ditemukan tewas di sebuah kamar hotel di Dubai bulan lalu.
Israel menolak berkomentar bahwa ke-11 orang yang oleh polisi Dubai disebut telah melakukan penyerangan terhadap Al Mabhouh adalah agennya. Di satu sisi, setiap pengakuan bahwa Israel berada di belakang pembunuhan itu akan mengancam perjanjian berbagi informasi intelijen antara Mossad dan Inggris yang memang rapuh.
Ketika polisi Dubai menyebarkan cuplikan gambar CCTV dari para tersangka, beberapa warga Inggris yang identitasnya dicuri menyuarakan kemarahan mereka setelah sadar bahwa nama mereka telah disebut-sebut dalam kasus itu. "Saya tidak meninggalkan Israel selama dua tahun dan saya pastikan, saya tidak berada di Dubai akhir-akhir ini," kata Paul Kent Keeley (42 tahun), seorang tukang bangunan yang telah tinggal di sebuah kibbutz (desa) di Israel utara selama 15 tahun terakhir.
"Ketika saya pertama kali mendengar hal ini, saya segera mencari paspor saya untuk mengetahui bahwa itu tetap pada tempatnya. Paspor itu tidak tercuri, jadi saya tidak tahu apa yang telah terjadi."
Ia melanjutkan, "Saya bangun pagi ini dan tiba-tiba hidup saya seperti sebuah film spionase. Ini semua mencemaskan, tetapi saya tahu saya tidak melakukan sesuatu yang salah."
Ibu Keeley, Joan, dari Yalding, dekat Maidstone, Inggris, mengatakan, gambar yang disebarkan polisi Dubai mengenai seorang tersangka bernama "Paul Keeley" mirip dengan putranya. Ia menduga, identitas putranya telah digunakan karena kemiripannya dengan tersangka pembunuhan itu.
Polisi Dubai telah menyebarkan foto-foto para tersangka, yang menggunakan enam paspor Inggris, tiga paspor Irlandia, dan masing-masing satu paspor Jerman dan Perancis.
Kantor Menteri Luar Negeri Inggris mengatakan itu paspor-paspor "palsu", sementara Kementerian Luar Negeri Irlandia mengatakan tidak pernah menerbitkan paspor dengan nama-nama yang digunakan. Seorang juru bicara pemerintah Jerman di Berlin mengatakan, nomor paspor Jerman pada dokumen itu juga palsu.
Nama tersangka lain dalam pembunuhan di Dubai itu adalah Melvyn Harrow Mildiner (31 tahun), yang tinggal di dekat Jerusalem. Dia mengatakan sangat marah dan takut ketika mengetahui bahwa paspornya telah ditiru. "Itu bukan saya, yang menjadi salah satu lapisan perak seluruh cerita ini karena saya dapat menunjukkan dan mengatakan, 'Lihat itu bukan saya. Itu bukan gambar pada paspor saya dan itu bukan gambar wajah saya'," katanya. "Saya masih memegang paspor saya. Itu ada di rumah saya dan tidak ada cap Dubai di dalamnya karena saya memang tidak pernah berada di Dubai."
Mildiner, yang memperlihatkan kemiripan pada gambar paspor tiruan yang digunakan tersangka pembunuh, menambahkan, "Saya tidak tahu bagaimana ini terjadi atau siapa memilih nama saya atau mengapa, tetapi saya berharap kita akan segera mengetahui itu."
Warga Inggris lain yang namanya tersangkut kasus itu adalah Stephen Salford Hodes (37 tahun), yang bekerja sebagai ahli fisioterapi di sebuah rumah sakit di Jerusalem; Michael Lawrence Barney (55), yang berasal dari London utara, yang juga tinggal di Israel; Jonathan Louis Graham (31 tahun), dari London utara; dan James Leonard Clarke (47), yang tinggal di Brighton.
Perjanjian sejumlah informasi intelijen antara Inggris dan Israel menjadi penting sejak serangan teroris 11 September 2001 dan dalam kaitan dengan nafsu besar Iran untuk membangun senjata nuklir. Namun, hubungan keduanya tidak berjalan mulus. Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher menutup operasi Mossad di Inggris tahun 1987 setelah Mossad melakukan operasi di London untuk menculik Mordechai Vanunu, seorang whistle-blower yang mengungkap tentang proyek senjata nuklir Israel.
Agen Mossad dikenal suka menggunakan paspor asing palsu. Kanada dan Selandia Baru beberapa tahun terakhir berselisih dengan Israel karena agen Mossad mencoba menggunakan paspor tiruan dari dua negara itu dalam operasi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang