Mengapa Properti di Malaysia Menarik bagi Orang Asing?

Kompas.com - 17/02/2010, 22:07 WIB

KOMPAS.com — Dalam 20 tahun terakhir ini, industri properti di Malaysia mengalami perubahan yang signifikan. Mengapa? Ada dua faktor. Pertama, kualitas dan desain mengalami perubahan yang dramatis. Tak ada yang mengatakan bahwa seluruh properti dibangun dengan jelek pada masa lalu atau semua properti yang dibangun sekarang dengan standar tinggi.

Yang pasti, ada peningkatan fokus dalam kualitas dan penggunaan bahan-bahan material yang lebih baik. Saat ini banyak pengembang percaya diri membangun rumah berkualitas tanpa khawatir properti itu tidak selesai tepat waktu atau menghadapi persoalan lainnya.

Saat ini banyak desain yang inovatif dan modern. Dalam dua dekade terakhir ini, arsitek Malaysia dan luar negeri telah merancang produk properti dengan melakukan revolusi desain. Memberi fokus yang kuat pada lingkungan dan lanskap memang sesuatu yang baru bagi Malaysia, namun ke depan akan menjadi hal biasa.

Kedua, pemerintah kini aktif mengajak orang asing membeli properti di Malaysia. Pada masa lalu, pemerintah membatasi orang asing membeli properti, tetapi sekarang hampir semua hambatan itu sudah disingkirkan. Tak ada pembatasan berapa jumlah rumah yang dapat dibeli orang asing di Malaysia.

Orang asing tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapat persetujuan dari Komite Investasi Asing (The Foreign Investment Committee/FIC) bila mereka membeli properti di Malaysia. Namun, mereka masih harus mendapatkan persetujuan dari otoritas negara dan ini membutuhkan waktu paling lama enam bulan.

Pajak pendapatan modal real estate sudah dihapus, jadi jika Anda menjual properti untuk memperoleh keuntungan, Anda tidak akan dikenakan pajak untuk itu. Di Malaysia, orang asing juga dapat membeli lahan kosong. Kesepakatan penjualan dan pembelian dapat dilakukan atas nama mereka dan ditulis dalam bahasa Inggris. Sejumlah kawasan dengan lahan sewa milik pemerintah juga bisa diperoleh. Waktu sewa biasanya berlaku sampai 99 tahun dan dapat diperbarui setelah masa perjanjian berakhir.

Kemungkinan salah satu aspek yang paling menarik dari properti Malaysia adalah harga yang murah. Real estate utama di pusat kota Kuala Lumpur, yang memiliki harga tertinggi di Malaysia, bernilai hingga 1.200 ringgit Malaysia (RM) per square foot, atau setara dengan 170 poundsterling atau 350 dollar AS. Nilai ini sama dengan 12.000 RM atau 1.695 poundsterling per meter persegi. Harga ini turun separuh jika Anda mencari lahan di dekat pusat kota, dan lebih rendah lagi jika lokasinya di luar kota Kuala Lumpur. Nilai tanah di kota Penang, misalnya, cenderung separuh dari harga di pusat kota Kuala Lumpur.

Ketika Anda membandingkan real estate utama Kuala Lumpur dengan Singapura, terlihat bahwa harga properti di Singapura 10 kali lebih mahal dibandingkan di Kuala Lumpur. Dan ini menunjukkan tawaran yang bernilai dari properti Malaysia bila dikombinasikan dengan umumnya biaya hidup yang relatif rendah. Ini merupakan kombinasi yang luar biasa bagi mereka yang berpikir akan menghabiskan masa pensiunnya di sini.

Apa yang tak boleh dibeli orang asing di Malaysia?

Ada beberapa jenis properti yang tidak boleh dibeli orang asing, yaitu properti dengan harga di bawah 250.000 RM (atau di bawah 350.000 RM di Sarawak). Hal ini untuk melindungi warga Malaysia yang berpendapatan menengah dan rendah dari tekanan inflasi pada pembelian rumah sederhana dan rumah sangat sederhana.

Orang asing juga tidak diizinkan membeli tanah cadangan Malaysia. Bagian-bagian tertentu di Malaysia hanya dapat dibeli oleh warga Malaysia sendiri. Sebagai tambahan, kawasan tertentu dibangun dan dikenal sebagai perkebunan buah-buahan dengan kepadatan bangunan minimal satu properti per acre (1 acre = 0,4046 hektar). Orang asing tidak diizinkan membeli tanah ini.

Harga real estate utama di Malaysia meningkat tajam dalam 10 tahun terakhir ini. Ini merupakan hasil dari meningkatnya minat orang asing dan performa ekonomi yang kuat setelah banyak orang Malaysia membeli rumah milik mereka. Diharapkan tren ini terus berlanjut, meskipun jumlah pembangunan baru mencegah hal ini terjadi begitu cepat. Yang tampak paling terlihat jelas adalah harga properti di pusat kota Kuala Lumpur.  Nah, bagaimana dengan properti di Indonesia? (Robert Adhi Ksp)

Sumber: propertyinmalaysia.com

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau