Bisnis rumah sakit

Menjaring dari Devisa Rp 10 Triliun

Kompas.com - 18/02/2010, 03:41 WIB

Investasi lebih dari Rp 250 miliar untuk sebuah rumah sakit di Jakarta jelas sebuah keputusan bisnis dengan perhitungan jelas. Investasi tadi bakal kembali dari mereka yang datang berobat. Ini bukan semata soal tega dan tidak tega sebab ada sejumlah devisa yang keluar untuk berobat di negara lain.

Dua pekan lalu, Sabtu (6/2), Grup Mayapada menggelar acara pemancangan tiang bagi pembangunan Mayapada Hospital. ”Ini rumah sakit yang kedua kami setelah sebelumnya Mayapada Hospital Tangerang,” ujar Tahir, pimpinan Grup Mayapada, di Jakarta. Acara yang meriah ini dihadiri sejumlah pejabat, antara lain Menko Kesra Agung Laksono.

”Investasi untuk gedung saja sekitar Rp 250 miliar,” ujar Tahir soal bangunan rumah sakit sebelas lantai yang dibangun di atas lahan 3,8 hektar di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Nilai peralatan medis di dalamnya bisa dua kali lipat. Rumah sakit yang dibangun dengan konsep hijau nantinya tak ubahnya berada di sebuah hotel bintang lima.

Bakal tersedia fasilitas dengan 300 tempat tidur, 78 ruang konsultasi, dan 7 ruang bedah. Menurut Tahir, rumah sakit yang akan siap beroperasi dua tahun lagi itu akan bekerja sama dengan National Healthcare Group (NHG), Singapura.

Bermitra dengan NHG jelas, Mayapada Hospital ingin menjaring devisa yang hilang dari banyaknya orang kaya di Indonesia berobat di negeri tetangga, seperti Singapura dan Malaysia. Jumlah devisa yang ”lari” untuk bisa sehat ini terus membengkak dari waktu ke waktu.

Kementerian Kesehatan menyebutkan, tahun 2004 sekitar 400 juta dollar AS atau sekitar Rp 3,6 triliun keluar dari mereka yang berobat ke luar negeri. Tahun 2007, pihak National Healthcare Group International Business Development menyebutkan, devisa yang dikeluarkan untuk berobat ke Singapura saja mencapai 600 juta dollar AS atau Rp 5,4 triliun.

Devisa yang sirna ini belum termasuk mereka yang berobat ke Penang, Malaysia. Adanya penerbangan langsung setiap hari dari Medan, Sumatera, Utara, ke Penang membuat warga Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam lebih suka ke Penang. Biaya yang dikeluarkan jauh lebih murah dibandingkan dengan berobat ke Jakarta. Sedikitnya Rp 1 triliun per tahun devisa dikeluarkan untuk berobat ke Penang.

Dengan berjalannya waktu, jumlah devisa yang sirna karena berobat ke luar negeri ini sudah mencapai Rp 10 triliun. Penerbangan yang ada setiap hari, ditambah maraknya penerbangan murah, kebijakan bebas fiskal karena memiliki NPWP, dan adanya paket wisata kesehatan, membuat angka devisa yang sirna untuk berobat ini bakal meningkat dari waktu ke waktu.

Saat ini diperkirakan sedikitnya 300.000 warga Indonesia berobat ke luar negeri setiap tahun. Rumah sakit di Singapura juga menyediakan layanan antar dan jemput menggunakan pesawat terbang dan helikopter dari sejumlah kota di Indonesia. Pasien warga Indonesia siap dijemput sejak dari rumah, asalkan siap membayar dalam jumlah besar.

Rumah sakit bermunculan

Tidak bisa dimungkiri, adanya peluang bisnis dari sekitar Rp 10 triliun devisa yang sirna untuk berobat ini yang membuat bermunculan rumah sakit ”bintang lima” di Jakarta dan kota-kota lainnya, seperti Surabaya, Medan, dan Makassar.

Dalam lima tahun terakhir ini terjadi pertambahan jumlah rumah sakit yang cukup signifikan. Tercatat ada 85 rumah sakit berbentuk perseroan terbatas (industri) dan 26 rumah sakit berbentuk yayasan yang berubah menjadi perseroan.

Pada akhir 2008, jumlah rumah sakit swasta 653 unit. Tumbuh sekitar 33 persen ketimbang hanya 491 rumah sakit tahun 1998. Adapun rumah sakit pemerintah mencapai 667 unit, naik 13,2 persen dari 589 unit tahun 1998.

Bertambahnya industri rumah sakit ini juga mendorong tumbuhnya industri farmasi di dalam negeri. Dalam tujuh tahun ini, industri farmasi di Indonesia tumbuh rata-rata 11 persen. Itu terlihat dari pendapatan mereka yang tumbuh dari 878 juta dollar AS atau setara Rp 8,34 triliun tahun 2002 jadi 1,6 miliar dollar AS atau setara Rp 15,2 triliun tahun 2008.

Rumah sakit yang terus bermunculan ini kebanyakan menawarkan jasa pelayanan bak hotel bintang lima. Sejak awalnya, dana pembangunan rumah sakit ini tidak bedanya dengan mendirikan sebuah industri manufaktur.

Misalnya, dana membangun Mayapada Hospital dihimpun dengan menawarkan sahamnya kepada publik atau IPO. PT Sejahtera Raya Anugrahjaya, yang membawahi Mayapada Hospital, pada April 2009 melakukan IPO guna menghimpun dana antara Rp 100 miliar dan Rp 125 miliar.

IPO ini memperlihatkan bahwa Mayapada Hospital jelas mengutamakan adanya profit yang memadai daripada pelayanan kesehatan yang diberikan. Apakah ini berarti bagian dari mengeksploitasi orang sakit untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.

”Mayapada Hospital Tangerang sudah banyak membantu, khususnya bagi masyarakat yang kurang mampu, dengan memberikan pelayanan tanpa mengurangi standar kualitas yang ada,” ujar Tahir. Artinya, nilai sosial dari sebuah rumah sakit tidak pernah diabaikan begitu saja.

Terjun dalam bisnis rumah sakit bisa ditangkap sebagai upaya mengeksploitasi kondisi orang sakit. Karena itu, tidak sedikit pengusaha di negeri ini yang mengaku tak mau masuk ke bisnis ini karena tidak tega menarik ”untung” dari orang yang sedang menderita.

Namun, jika melihat adanya devisa Rp 10 triliun per tahun yang sirna karena warga kaya Indonesia berobat ke luar negeri, bisnis rumah sakit di dalam negeri perlu didukung. Kehadiran beberapa rumah sakit dengan standar ”bintang lima” di sejumlah kota diharapkan dapat menjaring sebagian kecil dari devisa tadi untuk tetap menetapkan di dalam negeri.

Hal lain, dengan bermitra bersama pengelola rumah sakit di luar negeri dan tuntutan standar peralatan medis yang seimbang dengan kondisi di luar negeri, penanganan medis atas pasien dengan standar kualitas prima bisa diberikan di dalam negeri. Munculnya rumah sakit mewah bak hotel yang kian marak ini juga bisa memberikan lapangan kerja bagi tenaga medis yang tidak sedikit di dalam negeri.

Jadi, tidak lagi semata soal tega dan tidak tega. (ppg/faj)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau