Terkendala Pasokan dan Harga Gas

Kompas.com - 18/02/2010, 15:36 WIB

GRESIK, KOMPAS - PT Petrokimia menghadapi masalah keterbatasan pasokan gas 2010- 2011 yang turun signifikan. Minimnya pasokan karena penurunan produksi gas sumur Pagerungan yang dikelola Kangean Energi Indonesia. Kontrak pasokan gas dengan Kodeco Excess Gas dan Perusahaan Gas Negara juga berakhir pada Oktober 2010, sedangkan dengan Kodeco Existing Gas pada Mei 2011.

Masalah lain yang belum selesai, menyangkut kenaikan harga gas Kangean Energi Indonesia (KEI) dari Pagerungan dari dua dollar AS dan 2,75 dollar AS menjadi 4,5 dollar AS per juta British thermal unit (MMBTU). Selain itu, juga kenaikan harga gas dari sumur Terang Sirasun Batur (TSB) dari 3,8 dollar AS hingga 3,9 dollar AS menjadi 5,6 dollar AS hinggga 6,5 dollar AS per MMBTU.

Direktur PT Petrokimia Gresik Arifin Tasrif, Selasa (16/2) malam menjelaskan, mulai November 2010, PT Petrokimia krisis gas sehingga akan meminjam gas dari PT Pembangkit Jawa Bali di Gresik. "Kontrak dengan Kodeco dan PGN juga akan diperpanjang. Upaya penyelesaian internal dilakukan dengan konversi energi batu bara di pabrik SP-36 dan pembangkit listrik," kata Arifin.

Menurut Arifin, pabrik amoniak milik PT Petrokimia Gresik terancam tidak beroperasi pada November 2010, jika pasokan gas terkendala. Pasokan gas diperkirakan krisis mulai November 2010 hingga Desember 2011. Memang pada 2012 Sumur Terang Siraun dan Batur dijadwalkan sudah beroperasi sehingga kebutuhan gas bisa tercukupi kembali.

Ketahanan pangan

Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Mustafa Abubakar saat berkunjung ke PT Petrokimia Gresik minta agar perusahaan gas memprioritaskan kebutuhan domestik daripada ekspor. Dia menegaskan masalah gas bahan baku pupuk harus mendapat perhatian serius. Hal itu menyangkut ketahanan pangan karena belum adanya kepastian soal pasokan gas. Dia berharap kontrak ekspor gas yang habis sebelum diperpanjang mengutamakan kebutuhan gas domestik, khususnya untuk bahan baku pupuk.

Kebutuhan gas untuk PLN bisa dialihkan untuk kebutuhan pupuk dengan subtitusi atau mengganti bahan baku lain untuk pembangkit, seperti geothermal. Konsumsi gas yang tidak terlalu banyak dialokasikan untuk menunjang pupuk. Ladang gas diharapkan mendukung bahan baku pupuk, termasuk Hess dan Mobil Cepu Limited.

Arifin menambahkan, Petrokimia Gresik memiliki 16 pabrik pupuk dengan kapasitas 4,33 juta ton dan lima pabrik nonpupuk dengan kapasitas 1,647 juta ton untuk produksi amoniak, belerang, dan bahan baku semen. Arifin menambahkan, piutang subsidi pupuk pada 2008 sebesar Rp 1,6 triliun dan baru dibayar Rp 557 miliar pada Desember 2009.

Terbatasnya pasokan gas, salah satu kendala bagi investor asing untuk menambahkan kapasitas produksi di Jatim. Seperti kelompok usaha milik PT Cheil Jedang Indonesia (CJI) yang hendak mengembangkan pabrik di Jatim, agaknya perlu mengubah rencana. Selama ini pasokan gas dari Petrokimia cenderung tidak sesuai kebutuhan dan harga fluktuatif. "Rencana membangun pabrik baru di Jatim perlu dikaji ulang, karena kebutuhan akan gas relatif banyak," kata seorang direktur CJI. (ACI)

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau