NIAMEY, KOMPAS.com - Kudeta terhadap Presiden Niger, Tandja Mamadou yang dilancarkan dewan militer terus berlanjut. Setelah menangkap presiden dan membawanya ke sebuah lokasi yang diduga sebagai barak, mereka langsung menutup semua perbatasan.
Dalam pernyataan yang dibacakan di televisi negara Sahel Tele, Dewan Tertinggi untuk Pemulihan Demokrasi (CSRD) memutuskan menutup semua perbatasan baik darat maupun udara.
Seperti diwartakan sebelumnya, tentara dengan kendaraan lapis baja hari Kamis menyerbu istana presiden. Mereka menghujani isatan dengan tembakan dan menculik presiden.
Para tentara itu mengatakan negara dalam keadaan tanpa konstitusi dan semua lembaga pemerintahan dibubarkan. Juru bicara tentara mengatakan negara sekarang dipimpin oleh Dewan Tertinggi untuk Pemulihan Demokrasi.
Suasana kudeta tampak mencekam. Asap membubung putih dari dalam kompleks istana. Suara tembakan tak henti-henti menderu. Semua warga berlarian mencari perlindungan.
Traore Amadou, seorang wartawan lokal yang berada di dekat presiden ketika penembakan dimulai mengatakan, Presiden Tandja Mamadou diculik oleh pasukan pemberontak.
Stasiun radio Perancis, France Internationale melaporkan bahwa para tentara menyerbu masuk, dan menetralisir penjaga presiden sebelum memasuki ruangan tempat Tandja sedang memimpin sebuah pertemuan Kabinet.
Mereka mengantarnya ke sebuah mobil yang sudah menunggu di luar untuk membawanya ke sebuah kamp militer di pinggiran ibu kota. Tandja sempat tak sadar bila ia tengah dikudeta.
Presiden Tandja yang merebut kekuasaan dalam pemilu demokratis pada tahun 1999 memang harus menghadapi era kudeta dan pemberontakan.
Keputusannya ingin menicptakan konstitusi yang bisa membuatnya menjadi presiden seumur hidup telah menciptakan krisis politik. Niger menjadi negara yang menjadi semakin terisolasi sejak saat itu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang