Peminat Beasiswa Bidik Misi masih Sepi

Kompas.com - 19/02/2010, 14:37 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Beasiswa Bidik Misi (BBM) dari pemerintah sebesar Rp 5 juta per siswa per semester bagi 20.000 calon mahasiswa miskin yang berprestasi masih sepi peminat. Kemungkinan ini terjadi karena sebagian kasek dan pihak kampus belum optimal menyosialisasikan program ini.

Di Universitas Indonesia, misalnya, pendaftar Beasiswa Bidik Misi masih sepi peminat. Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Muhammad Anis mengatakan, UI memperoleh jatah Bidik Misi untuk sebanyak 500 mahasiswa. 

"Saat ini belum sampai 50 yang mendaftar, toh kami pun baru memprosesnya nanti setelah mereka diterima," tutur Anis kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (19/2/2010).

Di Surabaya, yang memeroleh kuota hingga 3.120 mahasiswa juga belum terlalu ramai. Beberapa PTN ada yang mulai membuka pendaftaran calon penerima. Namun, ada juga yang sudah menutupnya, termasuk Universitas Airlangga (Unair) yang sejak 15 Februari 2010 lalu.

Seperti dikatakan Direktur Kemahasiswaan Unair Imam Mustofa di Harian Surya, Kamis (18/2/2010), ada 4.000 siswa yang mendaftarkan diri. Formulir mereka akan diverifikasi, sehingga tinggal 1.000 yang terpilih. Mereka masih akan diseleksi lagi lewat PMDK Prestasi maupun SNMPTN.

"Biaya tes gratis," ujarnya.

Dia mengatakan, hanya peserta yang lolos itulah yang berhak mendapat Beasiswa Bidik Misi. Jumlah penerimanya mencapai 500 orang.

Sementara itu, Pembantu Rektor III Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Suasmoro menyatakan, respons masyarakat terhadap beasiswa tersebut belum terlihat, karena pendaftaran masih berlangsung hingga 4 April 2010 mendatang. Namun, kata dia, sedikit-banyaknya pendaftar nanti bergantung pihak sekolah.

"Di ITS, pendaftaran Bidik Misi secara online. Nomor PIN diperoleh lewat pengajuan kepada kepala sekolah. Karenanya, kami minta para kepala sekolah aktif mengakomodasi siswa yang berminta mendapatkan beasiswa ini," tutur Suasmoro.

Kasek SMAN 10 Surabaya Sukron menyatakan, siswa yang mendaftar Bidik Misi di sekolahnya minim, karena yang memenuhi kriteri hanya sedikit. "Kami sudah mengajukan ke beberapa PTN, tapi jumlahnya tidak sampai 20 siswa," ujarnya.

Rp 100 Miliar

Wakil Mendiknas Fasli Jalal menyatakan, program Bidik Misi selain untuk membantu warga miskin juga untuk mendorong para rektor dan pejabat kampus lebih mengenal latar belakang mahasiswa. "Supaya mereka tahu berapa mahasiswanya yang miskin, dari mana asalnya atau bagaimana latar belakangnya," ujarnya dalam pertemuan rektor PTN se-Indonesia di Garden Palace Hotel, Kamis (18/2/2010).

Anggaran BBM tahun ini, kata Fasli, sekitar Rp 100 miliar. "Tahun berikut diharapkan meningkat menjadi Rp 300 miliar, berikutnya Rp 500 miliar, Rp 700 miliar, sampai Rp 1 triliun," ungkap Fasli. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau