Selamat Datang di Kota "Kos-kosan"

Kompas.com - 21/02/2010, 02:33 WIB

Wajah Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, telah berubah. Sejak disulap menjadi kawasan pendidikan tahun 1980-an, kampus-kampus megah dan ribuan tempat kos bermunculan. Simbol masyarakat urban, seperti mal, hotel, kafe, bioskop 21, dan pusat kebugaran, telah hadir di sana. Budi Suwarna & Yulia Sapthiani

Malam mulai merayap di Jatinangor, Rabu (17/2) lalu. Jatinangor Town Square (Jatos), mal terbesar yang berdiri tahun 2006 dan kini menjadi ikon Jatinangor, tampak gemerlap. Pengunjung yang sebagian besar mahasiswa masuk dan keluar mal itu. Ada yang berbelanja kebutuhan sehari-hari, ada yang sekadar nongkrong di kafe sambil berselancar di dunia maya.

Hingga awal 1990-an, wajah kota semacam itu barangkali belum terbayangkan. Maklum, Jatinangor saat itu masih berupa kampung yang gelap dan seram pada malam hari. Sebagian wilayahnya berupa permukiman, sawah, dan tegalan yang ditumbuhi rumpun bambu.

Bangunan besar dan megah hanya ada di kampus Universitas Padjadjaran (Unpad), Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)—dulu STPDN—Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin), dan Universitas Winaya Mukti (Unwim).

Sekarang, fasilitas penunjang hidup masyarakat urban berdiri berjejer sepanjang Jalan Raya Jatinangor mulai perbatasan Cileunyi (Kabupaten Bandung) hingga kampus Unpad yang jaraknya sekitar 3 kilometer. Selain Jatos, ada Hotel Jatinangor, Hotel Puri Khatulistiwa, lapangan futsal, kafe, restoran, toko laptop, kompleks perumahan untuk kelas menengah ke atas, dan sebentar lagi akan dibangun apartemen.

Roda pembangunan juga merangsek masuk ke kampung- kampung. Areal persawahan tiba-tiba ditumbuhi kos-kosan megah. Di jalan masuk Desa Hegarmanah, ada Pondok Casa Elegante. Kos-kosan berlantai empat dengan arsitektur minimalis itu lebih mirip hotel. Bayangkan, kamarnya berjumlah 90 ditambah delapan kios permanen di lantai dasar.

Fasilitas yang disediakan pun mendekati hotel berbintang. Kamar berukuran sekitar 4 meter x 4 meter dilengkapi tempat tidur, meja, lemari, kamar mandi yang kerannya mengalirkan air hangat, dan jaringan internet. Pengelola juga menyediakan lahan parkir mobil.

Ima (29), pengelola Casa Elegante, mengatakan, sejak dibuka tahun lalu, semua kamar langsung terisi penuh. Bahkan, empat dari delapan kios disewa mahasiswa untuk tempat tinggal. Padahal, untuk ukuran Jatinangor, tarif kos di sana cukup tinggi, yakni Rp 8 juta per tahun untuk kamar standar dan 12 juta untuk kamar VIP.

Rumah-rumah kos megah juga mudah ditemukan di Caringin. Salah satunya Wisma Dara yang menyediakan 117 kamar kos, empat di antaranya kelas VIP. Kos- kosan yang didirikan tahun 1996 ini juga dilengkapi perabot lengkap, kamar mandi, internet, tempat parkir luas, dan keamanan 24 jam penuh.

”Tarifnya Rp 5 juta per tahun untuk kamar standar dan Rp 7 juta per tahun untuk VIP,” kata Agus Wawan (42), pengelola Wisma Dara.

Bisnis kos-kosan di Jatinangor memang cukup menggiurkan. Hampir semua kos-kosan penuh penghuni. Menurut Agus, dalam 10 tahun, pemilik Wisma Dara sudah bisa kembali modal.

Inilah yang membuat orang demam membuat kos-kosan di Jatinangor sejak tahun 1990-an. ”Bupati, mantan bupati, gubernur, mantan gubernur, dan tentara berpangkat tinggi dari sejumlah daerah berebut membangun tempat kos-kosan di sini. Pengelolaannya diserahkan kepada orang lain,” kata Supriatna, seniman yang tinggal di Jatinangor sejak 1975.

Warga Jatinangor pun ikut-ikutan menyewakan kamar rumahnya. ”Mereka rela tinggal satu kamar untuk satu keluarga karena kamar lainnya dijadikan kos-kosan. Tidak jelas lagi mana yang kos, mana pemilik rumah,” ujar Supriatna sambil tertawa.

Melayani mahasiswa

Sejak tumbuh menjadi kawasan pendidikan, Jatinangor memang seperti gula yang mengundang semut. Puluhan ribu mahasiswa baru datang ke sana setiap tahun. Mereka merupakan pasar yang menggiurkan. Tidak heran, hampir semua bisnis yang muncul di Jatinangor diciptakan untuk memanjakan mahasiswa.

Untuk makan, misalnya, mahasiswa kos tinggal memesan melalui SMS ke pemilik rumah makan. Dalam beberapa menit, makanan yang dipesan akan diantar ke kamarnya. Pedagang gehu (goreng tahu) pun siap memberikan layanan serupa. Inilah yang membuat mahasiswa kian betah tinggal di Jatinangor.

Apa kata mahasiswa tentang semua itu? Zakiah Rosa (20), mahasiswa semester 6 Fakultas Kedokteran Unpad, mengatakan, fasilitas yang ada di Jatinangor masih kurang. ”(Masak) tempat hiburan cuma Jatos saja,” katanya.

Namun, dengan perkembangan yang ada sekarang saja, Jatinangor sesungguhnya sudah terasa semrawut. Mengapa? Karena pembangunan terkesan dilakukan serba serampangan. Kampus didirikan, tetapi sarana transportasi tidak. Mal dan hotel dibangun, tetapi saluran air dan tempat pejalan kaki tidak.

Di mata planolog dari ITB, Andi Oetomo, yang pernah meneliti tentang Jatinangor, kawasan pendidikan yang ideal di Jatinangor sudah sulit diwujudkan. Meski demikian, bukan berarti pembangunan di sana tidak bisa dikontrol lagi.

Di luar kesemrawutan, pembangunan Jatinangor juga memunculkan persoalan sosial dan budaya. Itu terjadi karena mahasiswa dibiarkan hidup di dunianya sendiri. Sementara itu, di sekitar mereka, ”warga asli” Jatinangor juga hidup dengan dunia dan problematikanya sendiri.

”Kami tidak saling kenal meski kami hidup berdampingan,” kata Supriatna. (REK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau