Koin Parade Nusantara Sudah Capai Rp 250 Juta

Kompas.com - 21/02/2010, 11:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Koin yang digalang Persatuan Rakyat Desa Nusantara (Parade Nusantara) sebagai bentuk protes atas terkatung-katungnya nasib pembuatan Undang-Undang tentang Desa pada Minggu (21/2/2010) telah mencapai Rp 250 juta.

Ketua Parade Nusantara Sudir Santoso mengatakan, pihaknya memperkirakan, pengumpulan koin dapat mencapai Rp 7,2 miliar, dengan asumsi setiap desa menyumbang Rp 100.000.

Pengumpulan koin ini terjadi setelah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan tidak memiliki dana untuk membiayai pembahasan RUU tentang Desa dalam proleknas 2010 di DPR. "Koin ini sebagai bentuk protes karena UU tidak kunjung dibuat. Sejak Orde Baru tumbang, desa-desa tidak pernah memiliki undang-undang yang berdiri sendiri," ujar Sudir kepada Kompas.com, Minggu (21/2/2010).

Rencananya, sebanyak 40.000 perangkat desa akan mendatangi Gedung DPR, Senin esok. Di DPR, para perangkat desa ini akan berdialog dengan Baleg DPR RI dan para anggota Komisi II DPR RI. Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi diperkirakan akan hadir pada dialog tersebut.

Sudir mengatakan, kabar terbaru dari Parlemen, Komisi II sudah setuju akan membahas rancangan undang-undang tentang desa. "Semoga tidak ada deadlock lagi. Kami dari Parade Nusantara juga akan membentuk tim kajian akademik yang bertugas membuat RUU pembanding," tegasnya.

Secara substansi, Sudir mengatakan, ada beberapa poin yang diharapkan akan disertakan dalam RUU tersebut. Pertama, mengenai masa perpanjangan jabatan kepala desa dari 6 tahun ke 10 tahun, biaya pemilihan kepala desa yang harus ditanggung APBD kabupaten, serta usulan agar 10 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dialokasikan untuk pembangunan desa.

Terkait massa besok, lanjut Sudir, hanya perangkat desa dari Kabupaten Sukoharjo saja yang tidak turut serta. Menurut dia, Bupati Sukoharjo melarang para perangkat desa turut serta. "Padahal, jika undang-undang ini jadi, yang diuntungkan ya daerah. Saya rasa (pelarangan) ini sebagai bentuk ketidaktahuannya," tambah Sudir.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau