40 Persen Mebel Tak Lolos Seleksi Ekspor

Kompas.com - 21/02/2010, 17:11 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com - Sekitar 40 persen produk mebel perajin Cirebon yang diproduksi untuk pasar ekspor, tidak lolos seleksi. Produk itu harus dikembalikan kepada perajin karena dalam proses seleksi yang dilakukan pelaku ekspor, mebel tidak memenuhi standar kualitas negara-negara maju.

Indra Perwira, ahli hukum tata negara Universitas Padjadjaran (Unpad) yang pernah menjadi pembina perajin mebel di Cirebon pada tahun 1995-2002, mengatakan, standar kualitas negara-negara Eropa dan Jepang belum bisa 100 persen dipenuhi hingga saat ini.

Padahal, perajin telah membuat mebel sebaik mungkin tapi pasti ada yang dikembalikan. Masalahnya, perajin tak menguasa teknologi yang dibutuhkan, katanya. Teknologi itu diperlukan agar perajin bisa memenuhi standar negara-negara pengimpor.

Karena itu, mereka pun tak bisa mengukur standar mutu mebel. Akhirnya, kontrol dilakukan pelaku ekspor. Mebel yang tak memenuhi syarat dikembalikan sehingga prosesnya tidak praktis. Kontrol kualitas seharusnya dilakukan para perajin sehingga risiko mebel dikembalikan semakin kecil. Industri mebel di Cirebon mengirimkan sekitar 600 kontainer per bulan. "Perajin lokal kalau diminta menggarap model buatan luar negeri bisa tapi kontrol kualitasnya lemah," ujar Indra .

Anggota Lembaga Advokasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jabar Rinal Siswadi mengatakan, perajin di Jabar memerlukan tenaga ahli sehingga bisa membuat produk berkualitas yang dapat digunakan masyarakat lokal. Pemerintah daerah di Jabar diminta mengalihkan sebagian biaya promosi ke luar negeri untuk keperluan di Jabar, termasuk mendatangkan pakar.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau