MALANG, KOMPAS.com - Gol semata wayang Arema Indonesia pada "injury time" dari titik penalti menyelamatkan tim berjuluk "Singo Edan" itu memberi kemenangan atas musuh bebuyutan Persebaya Surabaya, dalam lanjutan Indonesia Super League (ISL) di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Minggu (21/2) malam.
Satu-satunya gol dalam 90 menit pertandingan itu lahir dari titik penalti yang dieksekusi Pierre Njanka pada menit ke-91. Hadiah penalti dari wasit Olehadi untuk Arema Indonesia tersebut lahir setelah Anderson Da Silva melakukan pelanggaran terhadap pemain Arema, Muhammad Ridhuan, di kotak terlarang.
Kemenangan tipis 1-0 atas Persebaya Surabaya tersebut semakin mengokohkan posisi Arema Indonesia di puncak klasemen sementara ISL 2009-10 dengan raihan poin 45 dari 21 kali bertanding. Sementara tim tamunya Persebaya Surabaya tetap bercokol di urutan ke-12 dengan raihan poin 25 dari 20 kali bertanding.
Sejak pertnadingan dimulai, Arema langsung menyerang. Namun, serangan demi serangan yang dibangun anak asuh Robert Rene Albert itu selalu kandas karena ketatnya para pemain Persebaya mengawal para pemain Arema Indonesia.
Disiplin tinggi dan kawalan ketat yang diperagakan anak asuh Danurwindo dalam meladeni tim tuan rumah Arema Indonesia membuahkan hasil. Kokohnya pertahanan yang dibangun Anderson Da Silva benar-benar menyulitkan para pemain Arema untuk menjebol gawang "Bajul Ijo" yang dikawal Syaifuddin itu.
Selain mendapatkan kawalan ketat, Persebaya juga menerapkan permainan bertahan dengan "menumpuk" beberapa pemain di lini belakang agar tidak sampai kebobolan.
Strategi tersebut benar-benar efektif sehingga para pemain Arema kesulitan membongkar benteng pertahanan Persebaya Surabaya.
Dengan strategi "menumpuk" pemain di belakang dan sekali-kali melakukan serangan balik, lini pertahanan Arema juga kedodoran. Teknik dan kemampuan individu yang dimiliki para pemain Persebaya juga menyulitkan Arema untuk menyarangkan golnya ke gawang Syaifuddin.
Memasuki 45 menit babak kedua, pelatih Persebaya memasukkan Andik Firmansyah yang menggantikan Andi Odank, dan Josh Maquire menggantikan Lucky Wahyu, serta Korinus F menggantikan Ngon A Jam.
Masuknya amunisi baru yang juga memiliki skill bagus itu semakin menyulitkan posisi Arema Indonesia untuk menerobos jantung pertahanan Persebaya, bahkan Arema sendiri kedodoran dan semakin frustasi karena hingga menjelang berakhirnya pertandingan babak kedua tidak mampu memetik poin.
Pergantian pemain yang dilakukan pelatih Arema Robert Rene Albert juga tak mampu menajamkan lini depan serta membongkar pertahanan Persebaya. Tiga pemain yang dimasukkan pada babak kedua itu adalah Dendy Santoso yang menggantikan Zulkifly, Ronny Firmansyah menggantikan Roman Chamelo, dan Rachmad Affandi menggantikan Noh Alam Shah.
Sampai 90 menit tak terjadi gol. Di masa injury time, terjadi kemelut di depan gawang Persebaya. Anderson Da Silva berusaha merebut bola dari Muhammad Ridhuan. Namun, Ridhuan terjatuh dan Da Silva pun ikut jatuh. Wasit Olehadi langsung menunjuk titik putih.
Para pemain Persebaya protes, karena merasa itu bukan pelanggaran. Kiper Persebaya, Syaifudin, bahkan akhirnya kena kartu kuning, karena terus protes. Sementara pelatih Persebaya, Danurwindo, tampak kecewa berat dan matanya berkaca-kaca.
Namun, keputusan wasit tetap dijalankan. Pierre Njanka yang menjadi eksekutor, sukses mencetak gol kemenangan Arema. (ANT)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang