Penalti Menangkan Arema atas Persebaya

Kompas.com - 21/02/2010, 21:39 WIB

MALANG, KOMPAS.com - Gol semata wayang Arema Indonesia pada "injury time" dari titik penalti menyelamatkan tim berjuluk "Singo Edan" itu memberi kemenangan atas musuh bebuyutan Persebaya Surabaya, dalam lanjutan Indonesia Super League (ISL) di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Minggu (21/2) malam.

Satu-satunya gol dalam 90 menit pertandingan itu lahir dari titik penalti yang dieksekusi Pierre Njanka pada menit ke-91. Hadiah penalti dari wasit Olehadi untuk Arema Indonesia tersebut lahir setelah Anderson Da Silva melakukan pelanggaran terhadap pemain Arema, Muhammad Ridhuan, di kotak terlarang.

Kemenangan tipis 1-0 atas Persebaya Surabaya tersebut semakin mengokohkan posisi Arema Indonesia di puncak klasemen sementara ISL 2009-10 dengan raihan poin 45 dari 21 kali bertanding. Sementara tim tamunya Persebaya Surabaya tetap bercokol di urutan ke-12 dengan raihan poin 25 dari 20 kali bertanding.

Sejak pertnadingan dimulai, Arema langsung menyerang. Namun, serangan demi serangan yang dibangun anak asuh Robert Rene Albert itu selalu kandas karena ketatnya para pemain Persebaya mengawal para pemain Arema Indonesia.

Disiplin tinggi dan kawalan ketat yang diperagakan anak asuh Danurwindo dalam meladeni tim tuan rumah Arema Indonesia membuahkan hasil. Kokohnya pertahanan yang dibangun Anderson Da Silva benar-benar menyulitkan para pemain Arema untuk menjebol gawang "Bajul Ijo" yang dikawal Syaifuddin itu.

Selain mendapatkan kawalan ketat, Persebaya juga menerapkan permainan bertahan dengan "menumpuk" beberapa pemain di lini belakang agar tidak sampai kebobolan.

Strategi tersebut benar-benar efektif sehingga para pemain Arema kesulitan membongkar benteng pertahanan Persebaya Surabaya.

Dengan strategi "menumpuk" pemain di belakang dan sekali-kali melakukan serangan balik, lini pertahanan Arema juga kedodoran. Teknik dan kemampuan individu yang dimiliki para pemain Persebaya juga menyulitkan Arema untuk menyarangkan golnya ke gawang Syaifuddin.

Memasuki 45 menit babak kedua, pelatih Persebaya memasukkan Andik Firmansyah yang menggantikan Andi Odank, dan Josh Maquire menggantikan Lucky Wahyu, serta Korinus F menggantikan Ngon A Jam.

Masuknya amunisi baru yang juga memiliki skill bagus itu semakin menyulitkan posisi Arema Indonesia untuk menerobos jantung pertahanan Persebaya, bahkan Arema sendiri kedodoran dan semakin frustasi karena hingga menjelang berakhirnya pertandingan babak kedua tidak mampu memetik poin.

Pergantian pemain yang dilakukan pelatih Arema Robert Rene Albert juga tak mampu menajamkan lini depan serta membongkar pertahanan Persebaya. Tiga pemain yang dimasukkan pada babak kedua itu adalah Dendy Santoso yang menggantikan Zulkifly, Ronny Firmansyah menggantikan Roman Chamelo, dan Rachmad Affandi menggantikan Noh Alam Shah.

Sampai 90 menit tak terjadi gol. Di masa injury time, terjadi kemelut di depan gawang Persebaya. Anderson Da Silva berusaha merebut bola dari Muhammad Ridhuan. Namun, Ridhuan terjatuh dan Da Silva pun ikut jatuh. Wasit Olehadi langsung menunjuk titik putih.

Para pemain Persebaya protes, karena merasa itu bukan pelanggaran. Kiper Persebaya, Syaifudin, bahkan akhirnya kena kartu kuning, karena terus protes. Sementara pelatih Persebaya, Danurwindo, tampak kecewa berat dan matanya berkaca-kaca.

Namun, keputusan wasit tetap dijalankan. Pierre Njanka yang menjadi eksekutor, sukses mencetak gol kemenangan Arema. (ANT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau