Menjenguk Kawah dan Menyapa Pelangi di Gunung Papandayan

Kompas.com - 22/02/2010, 12:05 WIB

KOMPAS.COM -Bagi mereka yang belum pernah menjejakkan kaki di punggungan lereng Gunung Papandayan, tentu akan terheran-heran ada apa dengan gunung yang terletak di sisi selatan Kabupaten Garut, Jawa Barat, ini.

Tampak jelas kondisi lereng dan sebagian titik puncak gunung berketinggian 2.665 m di atas permukaan laut itu seperti baru saja tergerus. Hamparan pecahan batu, mulai dari terkecil hingga bongkahan besar berserak menjejali jalur jalan setapak ke arah puncak dan ke lokasi perkemahan Pondok Seladah.

Tak jauh beda dengan lokasi wisata peninggalan sejarah Candi dan Situ Cangkuang. Peninggalan abad ke 16 ini bagai terserak tanpa perhatian. Meski candi terlihat bersih, karena masih ada warga sekitar yang rajin menyapu dan mempertahankan budaya ziarah ke makam Eyang Arif Muhamad (ada di area candi), Situ Cangkuang yang harusnya bikin cantik lokasi wisata itu, justru tampak kurang terawat.

Masalah pendangkalan akibat lumpur serta tanaman liar dan teratai yang tumbuh subur terlihat di situ tersebut. Bahkan, ada sebagian lahan situ yang dangkal sudah dijadikan lahan bertani oleh sebagian besar penduduk di Cangkuang.

Meski demikian, dua lokasi wisata yang sedang digagas oleh Pemerintah Kabupaten Garut sebagai tujuan utama peta wisata Garut, ini masih bisa dinikmati, baik kesejukan dan keindahannya. Dingin yang merayapi tubuh di saat mulai menapaki jalur ke kawah Papandayan, jadi kenikmatan yang tidak terlupakan.

Melihat batu-batu berserakan di sepanjang jalur ke kawah Papandayan, sepintas seperti tidak mungkin untuk ditapaki dan dinikmati. Justru dengan menapaki jalur yang tak seperti jalur jalan kaki itu, banyak sekali sensasinya. Paling tidak, jika tak terlalu kuat sampai ke puncak tiga atau dua  yang ada di ketinggian 2.200 m dan 2.300 m, sudah bisa disaksikan sejumlah titik baru tempat munculnya sumber belerang dan kawah-kawah kecil. Itulah yang muncul dari sisa-sisa kemegahan Papandayan usai longsor dan meletus di akhir tahun 2002.

"Dulu sebelum meletus yang bikin longsor sebagian bukit-bukit ini, kawah yang ada ukurannya besar. Kemudian, longsor yang seluruhnya adalah batu-batu dari dinding gunung itu menutup bagian kawah dan titik-titik lokasi belerang. Nah, setelah hampir dua tahun dari bagian longsoran muncul kawah baru dan titik belerang, tetapi ukurannya tidak besar. Meski yang ada sekarang ini kecil-kecil, jumlahnya belasan. Bahkan, ada titik belerang dan kawah yang muncul dari dinding batu runtuhan. Nggak terlalu kelihatan, tetapi tunggu dan dengarkan nanti pasti ada suara gemuruh kecil dan asap," kata Ade Nadin (51), pemandu wisata yang juga penduduk asli di Papandayan.

Kawasan wanawisata Gunung Papandayan yang terletak di Kecamatan Cisurupan, ini terletak 28 km arah selatan Garut. Gunung ini merupakan salah satu tujuan wisata pendakian dan berkemah bagi mereka yang suka dengan kegiatan alam bebas.

Meski jalur pendakian dari Desa Sinarjaya dan Kramatwangi tak mulus, namun masih dapat dinikmati pemandangan batu-batu berserakan yang warnanya agak keemasan. Langkah kaki yang agak terambat lantaran batu-batu yang terjal bakal terobati ketika sudah sampai ke sejumlah titik di mana dapat disaksikan keindahan danau kawah kecil yang masih menggelegak berwarna abu-abu, yang bernama Balagadama.

Harus diingat, menikmati kawah yang masih menggelegak dengan suhu 400 derajat Celcius itu juga harus tetap hati-hati. Apalagi dari dekat. Sebab, ada sejumlah jalur di sekitar danah kawah itu yang datarannya labil alias bisa ambles tiba-tiba. Karena itu, saat hendak manikmati indahnya lokasi belerang dan kawah ada baiknya menggunakan jasa pemandu, supaya tidak salah jalan.

Untuk menggunakan jasa pemandu tidak terlalu mahal, apalagi jika rombongan. Ongkos per orang adalah Rp 50.000 sekali jalan, Sedangkan untuk rombongan antara Rp 250.000 - Rp 300.000.  Dengan pemandu, perjalanan bisa diatur supaya sampai ke puncak salju (karena permukaannya dipenuhi abu bekas letusan) dan padang bunga edelweiss.

"Bisa melihat dari dekat titik belerang dan kawah, seperti Balagadama ini. Tetapi, yang harus kuat ditahan cuma nafas aja. Karena, seringkali ada angin kencang yang arahnya berubah-ubah. itu meniup asap dari titik belerang. Buat yang nggak kuat baunya bawa penutup hidung. Yang penting sih bawa air putih kalau nanti batuk-batuk," jelas sang pemandu.

Meskipun tinggal runtuhan dari dinding gunung, namun Papandayan masih layak dinikmati. Tidak perlu terburu-buru untuk sampai puncak demi melihat edelweis. Jalan kaki dengan kecepatan langkah biasa, cuma makan waktu sekitar dua jam. Dengan istirahat dan potret sana-sini, bisa tiga jam. Hasilnya, memandang Garut dari salah satu sisi puncak. Menjelang sore, turun dari sana puncak. Jika hujan baru saja usai, ada tambahan atraksi, yaitu munculnya pelangi yang melingkari puncak gunung Cikuray.

 
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau