Indonesia Rentan Impor Limbah Elektronik

Kompas.com - 22/02/2010, 15:19 WIB

DENPASAR.KOMPAS.com - Indonesia sebagai Negara berkembang sangat rentan terhadap impor limbah B-3 (Bahan berbahaya dan beracun) khususnya E-Waste (Electronic Waste) seperti handphone dan computer dari Negara-negara maju.

Masih minimnya pengawasan di setiap pintu masuk Indonesia serta belum adanya regulasi khusus terhadap penanganan E-Waste ini menjadi kendala yang dialami pemerintah untuk menanggulangi masalah ini.
 
Permasalahan E-Waste ini menjadi salah satu topik bahasan hangat dalam pertemuan ke-11 Special session of the UNEP Governing Council/Global Ministerial Environment Forum (GC-UNEP) di Nusa dua Bali. Selama ini Negara-negara berkembang termasuk Indonesia menjadi salah satu importir terbesar E-Waste karena ketidakmampuan mengatur regulasi hal tersebut.
 
Deputi Kementerian Lingkungan Hidup bidang pengelolaan bahan berbahaya beracun dan limbah bahan berbahaya dan beracun, Imam Hendargo Abu Ismoyo mengatakan permasalahan E-Waste semakin lama semakin berkembang dan kita harus memiliki regulasi khusus soal itu. “Payungnya sudah ada, tapi atas nama limbah B-3, diperlukan regulasi lebih jauh lagi, seperti peraturan menteri, dan peraturan sektor lain yang khusus terhadap E-Waste,” ujarnya.
 
Dalam perkembangannya pengekspor E-Waste tidak hanya Negara-negara besar seperti Amerika namun kini juga berasal dari Negara tetangga,” Bukan karena kapal dari Amerika terus barangnya punya Amerika, Bisa aja tetangga kita yang deket,” tambah Imam Hendargo.
 
Selain regulasi, upaya daur ulang E-Waste juga menjadi perhatian pemerintah. Saat ini sudah ada perusahaan yang menawarkan untuk mendaur ulang E-Waste terebut di antaranya perusahaan telepon genggam.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau