Defisit Bengkak, Pemerintah Takkan Tambah Utang

Kompas.com - 22/02/2010, 16:55 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Pemerintah akan mengajukan APBN-P 2010 dalam waktu dekat. Meski akan mengutak-atik sejumlah asumsi, pemerintah memastikan tidak akan menambah porsi utang untuk membiayai defisit APBN-P 2010 yang diperkirakan akan melonjak menjadi 2,2 persen dari sebelumnya dalam APBN 2010 yang hanya 1,6 persen dari Produk Domestik Bruto.

"Kalau ada tambahan defisit, kemungkinan besar kita enggak akan nambah utang," kata Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto, di Kementrian Keuangan, Jakarta, Senin (22/2/2010).

Menurut Rahmat, kenaikan defisit tersebut akan dibiayai sebagian besar dari sisa lebih penggunaan anggaran (SILPA) APBN 2009 yang mencapai Rp 38,3 triliun. Rahmat mengakui, pemerintah akan mengajukan kenaikan defisit dalam APBN-P 2010.

Kenaikan itu akan dialokasikan untuk stabilitas harga energi dan pangan serta program-program prioritas. Dalam UU 17/2003 keuangan negara, defisit APBN dapat dimaksimalkan mencapai 3 persen.

"Saat ini defisit sementara masih 1,6 persen dan nanti akan difinalisasi dalam APBN-P 2010 kenaikannya berapa. Kita usahakan defisit APBN atau APBD tidak boleh lebih dari 3 persen. Nanti keputusannya di DPR," tandasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau