Menerawang Gili Trawangan

Kompas.com - 23/02/2010, 15:01 WIB

KOMPAS.com - Setelah seminggu menghabiskan libur di Bali, saya dan kakak saya yang kebetulan “bule” memutuskan untuk berlibur ke Gili di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan tujuan kami adalah Gili Trawangan.

Merpati Airlines salah satu servis udara yang paling memungkinkan untuk ke Mataram dari Bali kami memutuskan untuk hanya mengambil one way ticket karena belum tahu kapan kami akan balik ke Bali.

Landing di Bandara Selaparang, Lombok setelah delayed 15 menit dari jadwal keberangkatan, kami memutuskan untuk secepatnya ke pelabuhan Bangsal dengan naik taksi bandara dengan biaya Rp 115.000. Lama perjalanan kurang lebih 45 menit.

Memasuki Pelabuhan Bangsal, taksi yang kami sewa tidak “boleh” memasuki areal pelabuhan, jadi kami disarankan naik cidomo -- transportasi khas Pulau Lombok -- dengan terpaksa. Abang saya merasa agak kesal karena kami tidak terbiasa memakai “kuda” sebagai budak untuk mengangkut kami, tetapi tidak ada pilihan terpaksa juga kami menaiki, mengingat bawaan kami yang lumayan dengan perlengkapan ke lautan.

Seperti umumnya di tempat pariwisata yang kami kunjungi di Indonesia, selalu saja bertemu orang-orang yang menarik kami sana-sini dan tidak ada kejelasan waktu keberangkatan yang bisa di andalkan. Informasi yang tersedia sebenarnya cukup di loket tiket tetapi servis seperti biasa kalah jauh dibandingkan pariwisata Thailand.

Kami memutuskan untuk menyarter seluruh boat dengan harga Rp 185.000 karena kami hanya ingin secepatnya sampai di tujuan!

Sampai di Gili Trawangan, kami kebingungan dengan pulau kecil nan indah tersebut. Apalagi lagi-lagi cidomo adalah satu-satunya alat transpor yang sayangnya kami memang kurang begitu menghargainya. Jadi kami menyewa cidomo untuk mengangkut barang kami saja dan kami berjalan kaki di belakang alat transpor andalan tersebut.

Yang membuat kami kaget karena ada salah satu kuda di cidomo tersebut yang jatuh dan patah kaki. Kami lumayan shock dengan kejadian tersebut! Anyway, that is just another story, betapa penggunaan hewan memang sangat lah tidak layak!

Check in di Hotel Desa Dunia Beda dengan harga kamar 140 dollar AS per malam di dukung dengan lokasi yang kebetulan saya suka; sepi! Tetapi ada masalah juga, air mandi/shower asin dan kolam renang yang super panas membuat kami kurang nyaman. Keesokan harinya kami cabut ke agak areal pusat di Dive Trawangan Lodge dengan harga kamar 44 dollar AS per malam. Small hut at least air conditioned and fresh water.

First dive, dengan harga diving 35 dollar AS, kami memutuskan untuk booked 3 kali dive. Jadi kami memuaskan diri kami untuk segera menyatu dengan alam dari bawah laut.

Koralnya tidaklah secantik di Thailand atau bahkan tidak lebih bagus daripada Tulamben (Karangasem, Bali) tetapi kesempatan untuk melihat kura-kura lebih memacu kami untuk menikmati setiap menit di bawah air!

Paling tidak kita tidak perlu ke Great Barrier Australia untuk bertemu dengan kura kura.

Menikmati keindahan alam dari laut akan sangat berbeda efeknya dengan sea world! Sayangnya tidak banyak penduduk Indonesia mengingat jumlah penduduk yang banyak, saya rasa masih kurang minat untuk melakukan aktivitas menyelam! Mungkin karena masyarakat Indonesia takut menjadi hitam. (Wijaya)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau