Duh, Si Mantan Kok Ada Dimana-mana?

Kompas.com - 24/02/2010, 12:21 WIB

KOMPAS.com - Paling sebal rasanya jika hubungan Anda dengan pacar tidak diselesaikan secara baik-baik. Sebab, salah satu pihak pasti merasa kecewa, atau bahkan benci. Masalahnya, dunia ini begitu sempit, sehingga tanpa sengaja Anda bertemu lagi dengan mantan. Entah di mal, di resepsi perkawinan teman, di acara kantor, dan lain sebagainya. Bisa dibayangkan, betapa canggungnya Anda atau mantan jika situasi tersebut terjadi. Semakin Anda berusaha menghindar, semakin sering Anda bertatapan atau mendengar suaranya.

Hal ini sebenarnya wajar saja. Survei yang diadakan American Greetings menunjukkan bahwa lebih dari 10 juta pasangan adalah teman sekantor. Namun sebenarnya ada cara yang "berkelas" dan dewasa untuk mengatasi situasi tak nyaman seperti disebutkan di atas. Berikut 6 contohnya, entah bila Anda menjadi pihak yang memutuskan atau diputuskan:

Bila Anda yang memutuskan:
1. Biarkan dia sendiri.
Jika Anda bertekad untuk mengakhiri hubungan Anda, jangan memberi harapan pada mantan peluang untuk rekonsiliasi. Berikan mantan ruang seluas-luasnya, dan hindari kontak apa pun kecuali ada urusan kerja atau tuntutan sosial. Mungkin akan sulit, tetapi dalam jangka panjang, saling menjauhkan diri akan membantu mantan untuk melupakan hubungan Anda.

2. Anda mungkin akan sedikit canggung, namun tak perlu bereaksi berlebihan. Tak semua mantan pasangan bisa melupakan hubungan buruk di masa lalu, dan tetap berteman sesudahnya. Jika mantan Anda masih sakit hati, dan memutuskan untuk mempermalukan Anda di depan umum (mungkin dengan mengajak pacar barunya), bersikaplah tenang, dan tak perlu menunjukkan kekesalan Anda. Bertingkah berlebihan hanya akan merusak reputasi Anda di tempat kerja.

3. Bersikaplah sabar dan bijaksana. Mungkin Anda membutuhkan waktu seminggu, atau sebulan, namun cepat atau lambat Anda akan bertemu orang baru. Hati-hatilah saat membawa kekasih baru Anda saat sang mantan mungkin ada di sekitar Anda. Situasi tersebut pasti tak nyaman buatnya, tak peduli sudah berapa lama Anda berpisah. Hindari PDA (public display of affection), dan panggilan-panggilan sayang yang bisa didengar mantan. 

Jika Anda yang diputuskan:
4. Jangan libatkan keluarga dan teman-teman Anda
. Memaksa keluarga, sahabat, atau rekan kerja memihak Anda, akan membuat mereka merasa tidak nyaman. Selain itu, persahabatan Anda pun akan dipertaruhkan. Enggak masalah sih, jika Anda mau curhat pada mereka, tetapi jangan memanfaatkan peluang tersebut untuk meratapi situasi. Anda juga tidak berhak mendesak mereka untuk ikut menjauhi mantan Anda.

5. Jangan memaksa mantan untuk membicarakan masa lalu. Salah satu hal paling berat saat mengakhiri hubungan adalah mempertimbangkan apa kesalahan yang Anda lakukan. Acara-acara sosial dan tempat kerja bukanlah tempat yang pantas untuk mengkonfrontasi mantan mengenai kesalahpahaman Anda. Jika mantan sudah tak mau mendiskusikan masalah itu lagi, jadikan hal itu tanda bahwa Anda juga harus melupakan dan mulai membuka lembaran yang baru.

6. Lupakan saja rasa benci. Anda mungkin sangat membenci mantan Anda sekarang, namun jangan sampai kebencian itu mempengaruhi sisa hidup Anda. Enggak enak lho, menyimpan rasa benci seorang diri (sementara mantan mungkin sedang menikmati hidupnya dengan kekasih baru). Sebaliknya, tetaplah tenang ketika bertemu mantan, dan jaga hubungan yang baik bila ia rekan kerja Anda. Bersikap positif penting untuk memulihkan diri dari perpisahan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau