Pemogokan Gabungan 24 Jam Lumpuhkan Yunani

Kompas.com - 24/02/2010, 19:26 WIB

ATHENA, KOMPAS.com — Pesawat-pesawat tidak terbang. Kantor-kantor kementerian dan sekolah-sekolah tutup di Yunani, Rabu (24/2/2010), ketika karyawan sipil dan swasta melakukan mogok nasional untuk memprotes tindakan-tindakan penghematan yang didukung Uni Eropa itu.

Pemogokan 24 jam itu adalah pemogokan gabungan pertama yang diserukan serikat-serikat pekerja publik dan swasta, yang mewakili separuh dari tenaga kerja Yunani yang berjumlah lima juta orang, sejak pemerintah Sosialis menang dalam pemilu Oktober tahun lalu.

Keikutsertaan sejumlah pemogok dianggap sebagai barometer jumlah rakyat Yunani yang mendukung usaha-usaha pemerintah untuk mengurangi defisit dalam mengatasi krisis fiskal yang mengguncang pasar-pasar dan menimbulkan kecemasan tetangga-tetangganya di Uni Eropa.

Athena tengah dibanjiri poster-poster dan pamflet-pamflet yang menyerukan agar warga Yunani mogok. Slogan yang ditampilkan adalah "Rakyat dan kebutuhan mereka lebih penting dari pada pasar".

Sejumlah toko tutup dan lalu lintas di ibu kota Yunani, Athena, lebih sepi ketimbang hari biasa. Massa di tempat-tempat perhentian bus di tengah kota itu mengeluh karena masalah angkutan umum.

Seluruh penerbangan kecuali untuk situasi darurat ke dan dari Yunani dihentikan dan kapal-kapal feri juga tidak beroperasi.

Ratusan orang berkumpul untuk kemudian bergerak ke gedung parlemen sekitar pukul 10.00 GMT atau 17.00 WIB.

"Saya melakukan mogok menentang pemotongan gaji. Saya mogok karena yang lainnya mencuri uang, sementara kami adalah pihak yang akan membayarnya," kata karyawan sipil berusia 36 tahun, Michalies Korileos.

"Mereka memotong gaji saya, sementara saya memiliki dua anak. Sulit untuk menanganinya," akunya. 

Keluhan-keluhan utama para pemrotes adalah pembekuan gaji publik, kenaikan pajak, dan peningkatan usia pensiun. Semua ini merupakan bagian dari rencana penghematan pemerintah.

Sementara itu, sejumlah orang menanggap tidak punya alasan untuk mogok. "Saya tidak ingin ikut serta dalam pemogokan itu," kata pemilik stasiun gas berusia 62 tahun, Dimitris Marivllos.

Pemogokan itu dilakukan pada saat para pejabat EU berkunjung untuk memantau apakah Yunani masih pada rencana untuk memotong defisit dobel digit.

Berdasarkan penelitian yang cermat dari para pembuat kebijakan EU dan pasar-pasar, pemerintah sejauh ini menolak menyetujui tuntutan-tuntutan para pemrotes.

Menteri Keuangan George Papacnstantinou, Selasa, mengatakan bahwa pemerintah harus memutuskan beberapa tindakan untuk mengurangi defisit setelah melakukan perundingan dengan para inspektur EU yang sedang mengunjungi negara itu.

Serikat-serikat pekerja mengatakan bahwa rencana pemerintah itu hanya akan membebani masyarakat miskin. Mereka pun mengancam akan melancarkan pemogokan lagi bulan depan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau