HAVANA, KOMPAS.com - Presiden Kuba Raul Castro menyatakan penyesalannya atas kematian seorang pembangkang terkemuka di penjara lantaran melakukan mogok makan. Namun ia menyangkal tudingan para aktivis kelompok hak asasi manusia bahwa telah telah terjadi penyiksaan.
"Presiden Castro menyesalkan kematian tahanan Orlando Zapata Tamayo, yang meninggal kemarin setelah mogok makan," kata juru bicara kementerian luar negeri.
"Tidak ada orang disiksa, tidak ada eksekusi," kata Castro kepada wartawan.
"Itulah yang terjadi di (pangkalan angkatan laut Amerika Serikat di) Guantanamo."
Sikap Castro itu ia sampaikan sehari setelah kematian Zapata yang melakukan mogok makan selama 85 hari sebagai bentuk protes atas kondisi penjara.
Kematian tersebut memicu kecaman internasional dan ibu Zapata menuding anaknya adalah korban dari sebuah pembunuhan terencana.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang