Eropa

Giliran Yunani Gelar Aksi Mogok

Kompas.com - 25/02/2010, 03:31 WIB

athena, rabu - Aksi mogok nasional di Yunani, Rabu (24/2), membuat pesawat, kereta api, dan feri berhenti beroperasi. Ribuan orang turun ke jalan di Athena untuk memprotes rencana penghematan yang dimaksudkan untuk melepaskan Yunani dari krisis utang yang telah menggoyang zona euro.

Sambil membawa spanduk dan poster, para pemrotes berjalan ke gedung parlemen menentang pembekuan kenaikan gaji publik, kenaikan pajak, dan penambahan usia pensiun.

”Hari ini mata Eropa akan tertuju pada kita. Hari ini kita berdemonstrasi demi harapan dan masa depan untuk membatalkan langkah-langkah (pemerintah),” kata Yannis Panagopoulos, pemimpin serikat pekerja swasta GSEE.

Ini merupakan pemogokan gabungan pertama oleh serikat pekerja publik dan swasta yang mewakili separuh angkatan kerja Yunani sejak pemerintah sosialis menang pada pemilu Oktober 2009.

Kebanyakan toko masih buka kendati bank-bank tutup dan lalu lintas di ibu kota yang biasanya padat terlihat sepi. Semua penerbangan, kecuali penerbangan darurat, dari dan ke Yunani berhenti, begitu juga dengan layanan feri. Monumen-monumen, seperti Acropolis, tutup.

”Saya mogok menentang pemotongan gaji karena pihak lain yang mencuri uang, tetapi kami yang harus membayar. Mereka memotong gaji saya, padahal saya punya dua anak yang harus dibesarkan,” kata Michalis Koroleos, salah satu pegawai negeri yang ikut mogok.

Aksi mogok itu bertepatan dengan kunjungan oleh pejabat Uni Eropa yang mengkaji apakah Yunani berada di jalur yang benar untuk mengurangi defisit yang mencapai angka dua digit.

Tolak tuntutan

Di bawah pengawasan para pembuat kebijakan dan pasar Uni Eropa, Pemerintah Yunani sejauh ini menolak untuk menyerah pada tuntutan pemrotes. Menteri Keuangan Yunani George Papaconstantinou, Selasa, mengatakan, pemerintah mungkin akan memutuskan langkah lebih jauh untuk mengurangi defisit setelah bertemu dengan pengawas dari Uni Eropa.

Serikat pekerja Yunani menyatakan, rencana pemerintah untuk mengurangi defisit hanya membebani rakyat miskin. Mereka mengancam akan kembali menggelar aksi mogok pada bulan depan.

Eropa sedang dilanda pemogokan massal. Sebelumnya, Jerman, Inggris, Spanyol, dan Portugal juga telah mengalami aksi mogok massal.

Di Jerman, para pilot Lufthansa mogok, menyebabkan ratusan penerbangan dibatalkan dan menimbulkan kekacauan perjalanan udara sejak Senin. Mereka mogok karena khawatir Lufthansa akan mengurangi biaya bagi stafnya dengan mengalihkan pekerjaan kepada orang-orang dari luar Jerman.

Para pekerja Spanyol, yang merasa tidak senang dengan rencana penambahan usia pensiun, turun ke jalan pada Selasa.

Di Portugal, serikat pekerja kedua terbesar di negara itu memperingatkan akan kembali menggelar aksi mogok jika pemerintah tetap memperpanjang pembekuan kenaikan gaji di sektor publik pada tahun ini.

Masih terganggu

Dari Paris dilaporkan, hingga kemarin penerbangan di negara itu masih terganggu akibat aksi mogok oleh para pengatur lalu lintas udara. Sejak Selasa, mereka memprotes modernisasi pengontrol lalu lintas udara yang bisa berdampak pada pengurangan pekerja.

Juru bicara bagi otoritas penerbangan sipil Perancis, DGAC, mengatakan, akibat aksi mogok itu, separuh penerbangan di Bandar Udara Orly dibatalkan dan seperempat penerbangan di Bandar Udara Charles de Gaulle juga dibatalkan.

Maskapai penerbangan nasional Perancis, Air France, Selasa malam, memperkirakan akan mengoperasikan penuh layanan penerbangan jarak jauh. Akan tetapi, hanya 75 persen penerbangan domestik dan penerbangan Eropa dari Bandara Charles de Gaulle serta 50 persen penerbangan dari Bandara Orly yang akan dioperasikan.

Serikat pekerja menyerukan mogok selama lima hari mulai Selasa, menentang kesepakatan modernisasi kontrol lalu lintas udara yang ditandatangani oleh Belgia, Perancis, Jerman, Luksemburg, Belanda, dan Swiss.

Pemerintah Perancis mengusulkan agar pengatur lalu lintas udara dilibatkan dalam negosiasi soal traktat Eropa. (reuters/fro)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau