Lagi, TKI Tewas di Malaysia

Kompas.com - 25/02/2010, 22:05 WIB

SAMPANG, KOMPAS.com — Tenaga kerja Indonesia asal Dusun Karongan, Desa Tanggumung, Kecamatan Kota, Sampang, Madura, Jawa Timur, Mariyanto (28), tewas di tempat kerjanya di Malaysia.

Mariyanto meninggal dunia sekitar sepekan lalu. Jenazahnya baru tiba di Sampang, Kamis (25/2/2010).

"Pihak keluarga belum mengetahui penyebab kematian Mariyanto karena perusahaan jasa tenaga kerja yang memberangkatkan saudara saya itu juga tidak tahu penyebab kematiannya," kata saudara kandung Mariyanto, Kurnia.

Mariyanto berangkat ke Malaysia menjadi TKI sejak empat bulan lalu melalui jalur resmi. Ia berangkat melalui Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) PT Abi Manyu yang beralamat di Sidoarjo, Jatim.

Kurnia menyesalkan sikap PJTKI yang memberangkatkan saudaranya itu sebab, selain tidak mengetahui pasti penyebab kematian Mariyanto, pengiriman jenazahnya juga lambat.

"Saudara saya ini sudah meninggal dunia pekan lalu. Tetapi mengapa jenazahnya baru dikirim hari ini," katanya.

Sementara itu, menurut salah seorang tokoh masyarakat setempat, Muhsin, almarhum bekerja di Malaysia sebagai TKI untuk membantu perekonomian keluarganya.

"Almarhum memiliki tiga adik yang kini masih menempuh pendidikan, sedangkan kedua orangtuanya sudah tua. Jadi, ia bekerja untuk membantu orangtua dan ketiga adiknya yang masih sekolah," kata Muhsin.

Kedatangan jenazah Mariyanto di kampung halamannya, Dusun Karongan, Desa Tanggumung, Sampang, pada Kamis sore. Jenazah ini langsung dimakamkan di pemakaman umum desa setempat.

Sementara itu, pihak keluarga masih menunggu kabar lebih lanjut dari PJTKI tersebut tentang penyebab kematian Mariyanto.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau