Mossad Sering Palsukan Paspor Australia

Kompas.com - 27/02/2010, 04:17 WIB

Sydney, Jumat - Badan intelijen Israel, Mossad, telah secara berkala memalsukan paspor Australia untuk mata-matanya. Demikian dikatakan seorang mantan agen Mossad, Kamis (25/2). Kemarahan terus meningkat atas penggunaan dokumen perjalanan asing untuk sebuah pembunuhan.

Mantan agen Mossad itu, Victor Ostrovsky, mengatakan kepada Radio ABC bahwa Mossad telah menggunakan paspor-paspor Australia untuk operasi-operasi, jauh sebelum pembunuhan Mahmud al-Mabhuh, seorang komandan penting Hamas di Dubai, 20 Januari.

Dia mengatakan, para agen Mossad tidak punya kesulitan untuk mengaku sebagai orang Australia. Hanya sedikit orang di Timur Tengah yang tahu banyak mengenai Australia.

”Kenyataan bahwa orang Australia berbicara bahasa Inggris, dan orang tak begitu peduli dialeknya, merupakan penyamaran yang mudah digunakan,” katanya. ”Anda dapat membuat cerita apa pun yang Anda inginkan. Tidak perlu aksen khusus untuk menjadi orang Australia atau Selandia Baru atau orang Inggris.

”Dan, saya tahu orang telah menyamar sebagai warga Australia. Itu bukan sekali saja, sudah sering. Jadi, mengapa tak menggunakannya (lagi)?” katanya.

Keberangan atas pembunuhan Mabhuh di sebuah hotel Dubai menjadi isu di Australia. Negara ini memanggil utusan Israel dipanggil atas penggunaan paspor Australia oleh pembunuh Mabhuh.

PM marah

Pihak berwenang Dubai kini telah mengidentifikasi 26 orang yang dicurigai terlibat dalam pembunuhan Mabhuh. Paspos-paspor palsu Australia digunakan oleh tiga dari 15 tersangka yang baru saja disebutkan, sebagian besar dari mereka adalah agen Mossad dengan menyamar sebagai orang Eropa.

”Negara mana pun yang telah terlibat dalam penggunaan atau penyalahgunaan sistem paspor Australia, terlebih untuk melakukan pembunuhan, menghina Australia dan karena itu akan ada tindakan oleh Pemerintah Australia sebagai reaksi,” kata PM Australia Kevin Rudd, dalam nada marah.

Mabhuh dibunuh bulan lalu di kamar hotelnya. Menurut polisi Dubai, hampir dipastikan pelaku pembunuhan adalah Mossad.

Polisi Dubai menambahkan 15 nama baru pada Rabu sebagai tersangka yang dicari atas pembunuhan itu. Enam pembunuh membawa paspor Inggris, 3 paspor Irlandia, 3 Australia, dan 3 Perancis.

Australia memanggil Dubes Israel untuk Australia Yuval Rotem dan memperingatkan bahwa hubungan persahabatan kedua negara terancam. Menlu Stephen Smith, yang memanggil Rotem, mengatakan penyidikan masih berlangsung. Akan tetapi, ketiga orang Australia itu tampaknya merupakan korban pencurian identitas.

Israel sebelumnya telah menyangkal tuduhan Ostrovsky, yang kini menjadi seorang penulis buku. Ostrovsky sudah pernah menulis buku tentang kebrutalan Mossad, yang dia saksikan sendiri saat aktif menjadi agen Mossad.

Dia mengatakan, Mossad lebih suka menggunakan paspor ”bendera palsu” karena paspor Israel kerap menimbulkan kecurigaan di Timur Tengah.

Ostrovsky mengatakan, Mossad mempunyai bagian penelitian yang yang tugasnya membuat dokumen-dokumen palsu dengan menggunakan jenis kertas dan tinta berbeda. Kalau mereka menciptakan sebuah paspor palsu, tak ada yang bisa membedakannya dengan yang asli.(AFP/Reuters/DI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau