JAKARTA, KOMPAS.com - Gencarnya pemberitaan yang selalu mengaitkan aksi terorisme dengan pesantren maupun madrasah di bantah oleh mantan Komandan Jaringan Jamaah Islamiyah, Nasir Abas. Dia mempertegas bahwa aksi terorisme tidak disebarkan melalui pesantren.
"Itu tidak benar. Memang terorisme itu terjadi karena ideologi yang salah. Tetapi ideologi ini tidak mengalir di sekitar pesantren. Enggak ditemukan ada kurikulum di pesantren yang mengajarkan itu," kata Nasir, di sela-sela diskusi "Mencegah Terorisme dengan Membangun Kepedulian dan Rasa Kemanusiaan", di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu (27/2/2010).
Dia mengakui, memang ada sejumlah alumni pesantren maupun madrasah yang diduga terlibat terorisme. Namun, perlu ditegaskan dari mana seseorang itu mendapatkan faktor radikal menjadi teroris. Meski demikian, banyak juga pelaku teroris yang tidak berasal dari pesantren.
"Pelaku itu rata-rata bukan dari kalangan pesantren. Mereka anak-anak lulusan SMA. Ideologi ini bisa saja terkena siapa pun. Kalangan level apapun. Kita harus waspada," tegasnya.
Hari ini, para korban bom di Jakarta dan Bali yang bergabung dalam Asosiasi Korban Bom Terorisme di Indonesia (Askobi) menggelar diskusi "Mencegah Terorisme dengan Membangun Kepedulian dan Rasa Kemanusiaan" untuk mengajak masyarakat agar tetap semangat dan peduli pada pencegahan aksi terorisme.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang