JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dinilai dua dari sedikit tokoh yang berada di garis terdepan dalam upaya reformasi birokrasi dan pemberantasan korupsi. Keduanya juga memiliki reputasi yang baik dalam mengelola negara. Mereka juga tidak pernah tersandung kasus hukum dan korupsi sekali pun. Namun, keduanya kini seolah disalahkan dalam skandal Bank Century oleh Pansus Hak Angket Century.
Satu pertanyaan mengemuka, mungkinkah Boediono dan Sri Mulyani bernasib seperti dua pimpinan KPK yang pernah dikriminalisasikan, Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah? Staf Ahli Presiden Bidang Hukum Denny Indrayana mengatakan, keduanya bisa saja bernasib seperti Bibit-Chandra yang memeroleh dukungan publik yang luas.
"Saya melihat keduanya bisa mengalami nasib yang sama," ujar Denny, Sabtu (27/2/2010) di Jakarta.
Terlebih, kata Denny, argumen dan bukti-bukti yang dipaparkan Pansus masih bisa diperdebatkan. Denny mengaku telah mengumpulkan sejumlah kesaksian dari beberapa orang yang pada intinya menegaskan, keduanya adalah orang yang bersih.
Bahkan, Denny juga tengah menunggu saat yang tepat untuk menerbitkan buku yang memuat kisah-kisah keteladanan mereka. Namun, disadari pula, keduanya tidak akan semudah Bibit-Chandra dalam memperoleh dukungan publik.
"Tidak semudah itu. Secara psikologi, masyarakat sudah telanjur menaruh kecurigaan ke pihak kekuasaan. Apalagi sudah ada opini publik yang terbangun jauh sebelum ada Pansus terbentuk bahwa keduanya bersalah," tambah Denny.
Orang baik
Pengakuan senada disampaikan budayawan Franky Sahilatua dan pengamat politik M Qodari. "Iman saya mengatakan, Sri Mulyani dan Boediono benar orang baik. Rasanya korupsi Rp 1 saja tidak," ujar Franky.
Franky pun kemudian mengutip pernyataan Presiden pada Kamis lalu ketika membuka sidang paripurna kabinet yang pada intinya mengatakan, SBY, sebagai negara, adalah yang paling bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi di Indonesia, baik di bidang pembangunan dan bidang kehidupan lainnya.
"Jadi, harus dicari siapa orang tidak baik di belakang mereka," ujar Franky.
Sementara itu, Qodari mengatakan menghargai keduanya adalah orang baik. "Tapi, tidak bisa dibilang (mereka) tidak bersalah. Biarkan proses hukumnya berjalan," tegasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang