Pernyataan SBY Positif

Kompas.com - 28/02/2010, 06:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.comPernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahwa dirinya sebagai presiden bertanggung jawab atas kebijakan yang telah diambil terkait kasus Bank Century bukan tidak mungkin berdampak menguntungkan.

Hal ini dikemukakan peneliti senior Center for Strategic and International Studies (CSIS), J Kristiadi, Sabtu (27/2/2010), saat ditanya tentang kasus Bank Century menjelang dibawa ke Sidang Paripurna DPR, Selasa (2/3/2010).

Langkah menyatakan mengambil alih tanggung jawab tersebut, menurut Kristiadi, menunjukkan saat ini Presiden Yudhoyono tengah membangun dan menyusun kembali ”bangunan koalisi” pendukung dirinya dari ”reruntuhan” bekas bangunan sebelumnya.

Sementara itu, aktivis Gerakan Indonesia Bersih, Fadjroel Rachman, kemarin mengatakan, para politisi dan partai politik, terutama mereka yang menjadi bagian dalam Panitia Khusus (Pansus) DPR tentang Hak Angket Bank Century, perlu bersikap ekstrahati-hati dalam penyampaian pandangan akhir di sidang paripurna mendatang terkait kasus itu. Dengan demikian, tidak mengkhianati harapan dan kepercayaan masyarakat.

”Saya sih sangat optimistis, apalagi publik selama ini bisa melihat prosesnya langsung lewat media massa. Memang sih, ada yang namanya penyakit ’oportunistis’ di setiap parpol. Namun, kondisi sekarang itu ibaratnya sudah jadi titik tanpa jalan kembali (point of no return),” tegas Fadjroel.

Ketua Pansus Idrus Marham, ditemui di sela-sela Pembukaan Rapat Kerja Nasional Partai Golkar, Jumat (26/2) malam, mengatakan, hasil Pansus DPR tentang Hak Angket Bank Century yang saat ini tengah disusun tim perumus tidak hanya memuat kesimpulan adanya indikasi penyimpangan dalam proses pengucuran dana talangan senilai Rp 6,7 triliun dan rekomendasi proses hukum atas penyimpangan itu. Pansus juga memberikan rekomendasi revisi sejumlah perundangan serta pengisian jabatan gubernur Bank Indonesia.

Pidato Presiden

Menurut Kristiadi, Presiden Yudhoyono telah menyiapkan pidato, yang diyakininya tidak akan jauh berbeda dengan pernyataan dirinya bertanggung jawab tadi.

”Namun begitu, dia juga harus akui kalau dalam proses dana talangan, misalnya, terjadi pelanggaran karena diduga ada yang mengalir masuk ke parpol. Dugaan pelanggaran itu harus diusut secara pro justicia,” tambah Kristiadi.

Lebih lanjut Kristiadi mengaku yakin upaya lobi yang semakin gencar dilakukan belakangan ini akan berdampak baik dan bahkan bisa sampai menarik sejumlah parpol, macam Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Hati Nurani Rakyat (Hanura), bergabung dalam koalisi baru mendatang.

Malah tidak hanya itu, PDI-P dan Partai Golkar sekalipun juga berkemungkinan ”merapat” kembali ke dalam koalisi. Namun untuk itu, Presiden Yudhoyono harus bisa bersikap tegas dan tidak mengambang jika tidak ingin terus menjadi bulan-bulanan oleh parpol lain.

Seusai menghadiri deklarasi Pemuda Demokrat Indonesia Bersatu di Samarinda, Kalimantan Timur, kemarin, anggota DPR, Michael Wattimena, menyatakan, dana penyelamatan Bank Century tidak mengalir ke Partai Demokrat ataupun ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono.

Wattimena berharap partai koalisi yang berseberangan pendapat dengan Partai Demokrat terkait kasus Century bisa mengubah sikap. Yang dimaksud ialah Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Golongan Karya,

”Hendaknya bisa berubah satu atau dua hari ke depan ini,” kata Wattimena. (WHY/BRO/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau