Cap go meh

Ruwat Bumi, Gotong Toa Pekong Tahun Baru Imlek

Kompas.com - 01/03/2010, 03:59 WIB

Kebebasan masyarakat Tionghoa di Indonesia untuk mengekspresikan kekayaan budaya semakin terasa. Kebebasan ekspresi itu sulit ditemukan saat masa pemerintahan Presiden Soeharto dengan adanya Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China.

Warga Jakarta memusatkan perayaan Cap Go Meh 2561 di seputar Glodok, Jakarta Barat, Minggu (28/2). Barisan penari barongsai, liong, pembawa tandu-tandu dewa-dewa, kelompok tanjidor, dan ondel-ondel menyemut saat berpawai dalam rangka memperingati ”Pawai Budaya Gotong Toa Pekong Tahun Baru Imlek 2561”. Masyarakat pun memadati jalan dan menyaksikan peristiwa budaya sebagai penutupan Tahun Baru Imlek atau Cap Go Meh.

Menurut ketua panitia pelaksana, Youanto Kenchana, peringatan Cap Go Meh yang dilakukan masyarakat Tionghoa di Jakarta adalah untuk bersyukur atas keselamatan dan kesejahteraan yang telah dialami. ”Dengan peringatan itu, masyarakat Tionghoa juga berharap keselamatan dan kesejahteraan dapat dialami pada tahun yang baru,” katanya.

Namun, lanjut Youanto, masyarakat Tionghoa juga berdoa agar negara aman dan rakyat sejahtera pada Tahun Macan. Jika negara aman, rakyat pun jauh dari penderitaan. Ia mengilustrasikan, dalam tradisi di China, banyak raja kecil yang berperang atau konflik. Perang atau konflik itu membuat rakyat kecil jadi korban dan menderita.

Sementara itu, warga Kota Bekasi, terutama suku Tionghoa, memadati sepanjang ruas Jalan Kenari, Kelurahan Margahayu, Bekasi Timur, mulai Minggu siang. Perayaan Cap Go Meh diisi prosesi ruwat bumi dengan arak-arakan keliling pusat kota Bekasi.

Perayaan

Perayaan Cap Go Meh mengakhiri rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek yang berlangsung selama 15 hari. Kemarin, kemeriahan perayaan Cap Go Meh tetap terlihat meskipun hujan mengguyur kawasan Kota Bekasi sebelum prosesi ruwat bumi itu dimulai. Kalangan Musyawarah Pimpinan Daerah Kota Bekasi, termasuk Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad, hadir dan mereka berada di panggung.

Sebelum arak-arakan pawai dilepas, warga, yang memadati ruas jalan depan kelenteng, diajak mengheningkan cipta untuk mengenang dan mendoakan tokoh pluralis Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Puncak prosesi ruwat bumi dari kelenteng tertua di Bekasi ini dilakukan dengan mengarak tandu berisi rupang (patung) para dewa-dewi yang disemayamkan di Kelenteng Hok Lay Kiong. Tandu yang diarak, antara lain, memuat patung Kwan Im Po Sat, Hian Thian Siang Tee, Kwan Kong, dan Hok Tek Ceng Sin.

Perayaan Cap Go Meh di Kota Bekasi dimeriahkan dengan tari naga (liong) dan barongsai dari kelompok tari asal Kelenteng Hok Lay Kiong dan dari kelenteng di Jakarta dan Bogor. Juga ada parade drum band dan iring-iringan pelajar berpakaian tradisional nusantara, serta arak-arakan tandu golok.

Panjang arak-arakan itu dan para pengiringnya mengular dari depan kelenteng sampai ruas Jalan Mayor Oking, Bekasi Timur.

Perayaan Cap Go Meh di Kota Bekasi kemarin juga disemarakkan dengan kehadiran ondel- ondel Betawi dan reog Ponorogo dari Jakarta. (COK/FER)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau