Kebebasan masyarakat Tionghoa di Indonesia untuk mengekspresikan kekayaan budaya semakin terasa. Kebebasan ekspresi itu sulit ditemukan saat masa pemerintahan Presiden Soeharto dengan adanya Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China.
Warga Jakarta memusatkan perayaan Cap Go Meh 2561 di seputar Glodok, Jakarta Barat, Minggu (28/2). Barisan penari barongsai, liong, pembawa tandu-tandu dewa-dewa, kelompok tanjidor, dan ondel-ondel menyemut saat berpawai dalam rangka memperingati ”Pawai Budaya Gotong Toa Pekong Tahun Baru Imlek 2561”. Masyarakat pun memadati jalan dan menyaksikan peristiwa budaya sebagai penutupan Tahun Baru Imlek atau Cap Go Meh.
Menurut ketua panitia pelaksana, Youanto Kenchana, peringatan Cap Go Meh yang
Namun, lanjut Youanto, masyarakat Tionghoa juga berdoa agar negara aman dan rakyat sejahtera pada Tahun Macan. Jika negara aman, rakyat pun jauh dari penderitaan. Ia mengilustrasikan, dalam tradisi di China, banyak raja kecil yang berperang atau konflik. Perang atau konflik itu membuat rakyat kecil jadi korban dan menderita.
Sementara itu, warga Kota Bekasi, terutama suku Tionghoa, memadati sepanjang ruas Jalan Kenari, Kelurahan Margahayu, Bekasi Timur, mulai Minggu siang. Perayaan Cap Go Meh diisi prosesi ruwat bumi dengan arak-arakan keliling pusat kota Bekasi.
Perayaan Cap Go Meh mengakhiri rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek yang berlangsung selama 15 hari. Kemarin, kemeriahan perayaan Cap Go Meh tetap terlihat meskipun hujan mengguyur kawasan Kota Bekasi sebelum prosesi ruwat bumi itu dimulai. Kalangan Musyawarah Pimpinan Daerah Kota Bekasi, termasuk Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad, hadir dan mereka berada di panggung.
Sebelum arak-arakan pawai dilepas, warga, yang memadati ruas jalan depan kelenteng, diajak mengheningkan cipta untuk mengenang dan mendoakan tokoh pluralis Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Puncak prosesi ruwat bumi dari kelenteng tertua di Bekasi ini dilakukan dengan mengarak tandu berisi rupang (patung) para dewa-dewi yang disemayamkan di Kelenteng Hok Lay Kiong. Tandu yang diarak, antara lain, memuat patung Kwan Im Po Sat, Hian Thian Siang Tee, Kwan Kong, dan Hok Tek Ceng Sin.
Perayaan Cap Go Meh di Kota Bekasi dimeriahkan dengan tari naga (liong) dan barongsai dari kelompok tari asal Kelenteng Hok Lay Kiong dan dari kelenteng di Jakarta dan Bogor. Juga ada parade drum band dan iring-iringan pelajar berpakaian tradisional nusantara, serta arak-arakan tandu golok.
Panjang arak-arakan itu dan para pengiringnya mengular dari depan kelenteng sampai ruas Jalan Mayor Oking, Bekasi Timur.
Perayaan Cap Go Meh di Kota Bekasi kemarin juga disemarakkan dengan kehadiran ondel- ondel Betawi dan reog Ponorogo dari Jakarta.