PKS: Andi Arief Seharusnya Urusi Ciwidey

Kompas.com - 01/03/2010, 10:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sekjen Partai Keadilan Sejahtera Anis Matta menyindir ”aksi” Staf Khusus Presiden Bidang Sosial dan Bencana Alam Andi Arief. Andi, yang belakangan ini vokal mengungkap kasus dugaan L/C fiktif politisi PKS, M Misbakhun, dinilai bertindak di luar kapasitasnya.

Menurut Anis, Andi seharusnya lebih banyak mengurusi persoalan bencana alam yang tengah melanda. Salah satunya, bencana tanah longsor di Ciwidey, Tasikmalaya, Jawa Barat. ”Apa yang dilakukan (Andi Arief) di luar kewenangannya. Andi Arief lebih tepat mengurusi Ciwidey,” kata Anis di Gedung DPR, Jakarta, Senin (1/3/2010).

Anis menilai, apa yang dilakukan para staf khusus Presiden merupakan bentuk ”perang urat syaraf” kepada partai-partai koalisi. Termasuk pernyataan Staf Khusus Presiden Bidang Hukum Denny Indrayana yang mengungkapkan adanya upaya lobi partai koalisi kepada Presiden untuk menghentikan sejumlah kasus hukum.

PKS membantah pernyataan Denny. ”Yang jelas bukan PKS yang dimaksud. Kasus Pak Misbakhun silakan saja diproses hukum. Diangkatnya kasus ini juga bagian dari perang urat syaraf itu,” kata Anis.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau