Dicari: Bos yang Bisa Bikin Sehat!

Kompas.com - 01/03/2010, 18:39 WIB

KOMPAS.com — Bos yang tidak kompeten dan kasar ternyata tidak hanya mengacaukan hari-hari kita. Sebab, berdasarkan penelitian terbaru, bos yang tidak menyenangkan seperti itu adalah sumber stres karyawan yang dapat menyebabkan serangan jantung!

Adalah Anna Nyberg dari Karolinska Institute di Swedia yang melakukan penelitian sebagai persyaratan mendapatkan gelar masternya. Nyberg melakukan survei terhadap 20.000 pegawai di Eropa. “Secara tersirat terlihat, pegawai yang bosnya bukanlah pemimpin yang baik adalah awal dari terjadinya serangan jantung. Dan uniknya, serangan jantung pada pegawai ini lebih banyak dialami oleh laki-laki,” paparnya.

Ternyata, Nyberg menambahkan, masalah pekerjaan terbawa terus sampai pegawai keluar dari ruang kerjanya. Inilah yang terjadi pada pegawai-pegawai yang ditelitinya di Swedia, Firlandia, Jerman, Polandia, dan Italia. Pegawai di Swedia, lebih dari 25 persen berisiko mengalami serangan jantung selama 10 tahun belakangan. Risiko serangan jantung ini akan berlangsung lama ketika para pegawai terus bekerja dengan bosnya yang tidak menyenangkan dalam jangka waktu lama.

“Ini jelas menunjukkan adanya hubungan antara kemampuan memimpin seseorang dengan tingkat stres bawahannya,” katanya.

Ketika pegawai hanya mengeluh tentang bosnya, itu adalah awal dari stres akan terus terjadi. Sebab, Nyberg menjelaskan, dari data yang dimilikinya, pegawai yang lebih sering izin sakit memiliki keterkaitan dengan bagaimana bosnya memberikan perintah.

Lalu bagaimana dengan pegawai perempuan? Nyberg menjawab, angka keterkaitan kepemimpinan bos dengan status kesehatan karyawan tidak terlalu jelas. Tetapi, Nyberg juga meyakini kemungkinan perempuan juga bisa mengalami stres akibat bosnya tidak menyenangkan. “Karena pada dasarnya, stres pekerjaan dialami oleh laki-laki dan perempuan.”

Menanggapi penelitian Nyberg, Direktur Behavioral Medicine Research Center di Duke University, Dr Redford Williams, mengamini jika stres karena pekerjaan memang disebabkan ketidakmampuan atasan untuk menjadi pemimpin yang mendukung karyawannya. “Alhasil, stres ini membuat tubuh mengeluarkan hormon yang menaikkan tekanan darah, menyebabkan peradangan, serta membuat dinding pembuluh darah menjadi lebih tipis hingga serangan jantung mungkin saja terjadi.”

Karena atasan selalu menekan anak buahnya, lama-kelamaan akan membuat stres berubah wujud menjadi serangan jantung dan stroke. “Bawahan memiliki posisi tawar yang sedikit untuk bisa menghadapi bos yang tidak punya jiwa kepemimpinan. Inilah yang kemudian membuat mereka mengalami penurunan status kesehatan.”

(Prevention Indonesia/Siagian Priska)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau