Kasus century bakal

IAW: Audit BPK soal Century Diragukan

Kompas.com - 02/03/2010, 10:42 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia Audit Watch (IAW) memprediksi penuntasan kasus skandal Bank Century akan "mati suri" seperti kasus BLBI I dan II karena validitas data yang dihasilkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait Century diragukan.

"Kami menduga bahwa modus operandi pimpinan BPK ini sama dengan modus pemeriksaan atau audit kasus BLBI. Kami mengusulkan bahwa BPK direposisikan dulu, bahkan kami yakin bahwa kasus Century akan sama dengan kasus BLBI yang tidak jelas ujungnya," kata Sekretaris IAW Iskandar Sitorus di Jakarta, Senin (1/2/2010) malam.

Iskandar mendesak agar tim audit BPK diperiksa oleh tim kode etik BPK. "Sampai saat ini, tidak ada respons dari BPK terhadap laporan kami, bahkan saya hanya ditemui oleh Humas BPK. Sementara itu, tim kode etik belum terbentuk. Ada apa ini?" tanyanya.

Kalau mengacu pada UU BPK tahun 2006, tim kode etik tersebut harus sudah dibentuk 6 bulan setelah UU berlaku. "Nyatanya sampai saat ini tidak ada. Kalau di kepolisian ada kompolnas, DPR ada Dewan Kehormatan, kenapa di BPK tidak ada," ujar Iskandar.

Iskandar yakin kalau kasus Century akan sia-sia karena alat bukti yang digarap oleh Pansus tidak valid. "Bahkan, kasus ini tidak bisa masuk ke ranah hukum. Apa yang diputuskan oleh Pansus tidak bisa disidik oleh pihak penegak hukum dan kerja Pansus tidak ada gunanya," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau