GMNI: Partai Demokrat Belum Berpengalaman

Kompas.com - 02/03/2010, 16:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sementara itu, aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dari Tangerang Selatan, Kori Kurniawan, di sela-sela kegiatan aksi kepung DPR RI menyatakan, Presiden SBY harus segera turun tangan.

SBY sebaiknya tidak membiarkan para politisi Partai Demokrat, yang belum berpengalaman mengacaukan jalannya sidang paripurna kasus Bank Century.

"Kami bersama seluruh elemen Kelompok Cipayung Plus, yakni HMI, GMNI, GMKI, PMKRI, dan beberapa organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan lainnya akan terus menduduki kawasan Senayan ini, hingga Megaskandal Bank Century ini terbongkar sejelas-jelasnya, dan jelas pula siapa yang harus bertanggungjawab dan diproses secara hukum," tandasnya.

Pihaknya menghendaki, agar DPR RI tidak menutup-nutupi megaskandal ini, tetapi mesti diselesaikan setuntas-tuntasnya, segera adili pihak-pihak yang bertanggungjawab, agar dapat memenuhi azas keadilan masyarakat.

"Mari kita bersama terus meningkatkan kekuatan, menolak Neoliberalisme, yang merupakan antek dari Neo Kolonialisme-Neo Imperalisme (Nekolim) yang menghisap segala sendi demokrasi, politik, ekonomi dan sosial bangsa. Hanya satu tindakan, tolak Neolib," kata Kori Kurniawan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau