Demo ricuh

Demonstran, Wartawan, dan Polisi Pun Terluka

Kompas.com - 02/03/2010, 16:48 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR, Jakarta, Selasa (2/3/2010), berakhir ricuh. Aksi lempar batu yang dilakukan para demonstran ke arah polisi dibalas dengan semprotan air dari mobil water canon dan gas air mata. Korban luka tak dapat dihindarkan.

Berdasarkan catatan Kompas.com, sejak pagi hingga siang tadi sudah empat pengunjuk rasa terkapar karena terkena gas air mata, water canon, dan lemparan batu dari sesama demonstran.

Sementara dari kepolisian, satu brigadir dari samapta polda terluka akibat lemparan batu. Hal yang sama menimpa seorang pewarta foto bernama Feri dari harian Indopos. Feri terluka di bawah matanya akibat terkena pecahan selongsong gas air mata yang ditembakkan polisi.

Terkait kericuhan ini, polisi menahan dua orang yang dicurigai telah memancing massa melakukan tindakan anarkis. Kedua orang itu diduga menjadi provokator dalam aksi pelemparan batu dan perusakan barikade kawat berduri pada pagi hingga siang tadi.

”Untuk sementara kami amankan untuk diperiksa, ada dua. Dari elemen yang pertama kali melakukan pelemparan batu,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Boy Rafli Amar kepada wartawan di depan Gedung DPR, Selasa.

Meski demikian, Boy masih belum bisa menjelaskan siapa kedua orang itu dan berasal dari elemen mana. ”Sampai saat ini masih kami periksa,” ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau