Mengais Berkah di Balik ACFTA

Kompas.com - 02/03/2010, 18:29 WIB

Oleh IMA AMALIAH

Mencermati pemberitaan di media massa terkait dengan pelaksanaan perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA), miris rasanya melihat fakta riil dalam sebagian besar perekonomian yang tidak efisien. Masihkah ada harapan untuk menikmati keuntungan dari perdagangan internasional dan liberalisasi perdagangan ini?

Menurut David Ricardo, suatu negara masih memungkinkan untuk meraih keuntungan dari perdagangan internasional meskipun secara absolut produknya tidak unggul. Mengapa? Sebab, keuntungan dari perdagangan internasional bisa diciptakan dengan memproduksi dan mengekspor barang yang memiliki produktivitas tinggi atau keunggulan komparatif. Sebaliknya, negara yang bersangkutan lebih baik mengimpor produk yang tidak memiliki keunggulan komparatif.

Pendapat ini dipertegas oleh pemikiran Hecksher Ohlin, yaitu suatu negara hendaknya berspesialisasi pada produk yang dibuat dengan kelimpahan sumber daya. Jadi, negara yang dilimpahi sumber daya alam hendaknya mengekspor produk yang diproduksi dengan sumber daya alam berlimpah. Sebaliknya, negara itu sebaiknya mengimpor produk yang dihasilkan dengan sumber daya alam yang langka.

Meskipun kenyataannya kedua teori ini mengandung kelemahan, seperti bersifat statis dan mengabaikan aspek mobilitas sumber daya, kita bisa mengambil sedikit kelebihan dari teori ini. Teori ini kemudian dipadukan dengan teori perdagangan lain yang lebih komprehensif, seperti keunggulan kompetitif dan daya saing ekspor.

Potensi Jabar

Pelajaran yang bisa kita ambil adalah Jawa Barat merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang dikaruniai sumber daya alam yang luar biasa. Ternyata, selain karunia alam, Jabar juga merupakan salah satu wilayah yang dilimpahi sumber daya manusia yang besar dan kreatif. Artinya, mengapa Jabar tidak fokus pada produk yang dihasilkan menggunakan kelimpahan sumber daya, baik manusia maupun alam?

Buktinya, saat krisis ekonomi tahun 1997, ternyata produk ekspor yang sumbangannya masih positif adalah produk yang diproduksi dengan kandungan lokal tinggi. Sementara pertumbuhan produk yang kandungan impornya tinggi malah negatif. Ini bisa dipastikan karena komponen impor sangat terpengaruh oleh fluktuasi nilai tukar.

Bagaimana jika terjadi liberalisasi yang memungkinkan sumber daya bergerak dengan mudah lintas negara? Mungkinkah suatu negara masih bisa menciptakan keuntungan dari perdagangan internasionalnya?

Liberalisasi perdagangan dapat menciptakan dua efek, yaitu trade creation dan trade divertion. Tulisan ini hanya fokus pada trade creation. Trade creation terjadi jika ada pengalihan perdagangan dari negara anggota yang biayanya mahal ke negara anggota yang biayanya murah. Artinya, kegiatan impor akan beralih ke negara-negara yang struktur biayanya murah.

Bagaimana caranya memiliki struktur biaya murah? Jika kita merunut lagi teori di atas, solusinya adalah berspesialisasi pada produk yang bisa dihasilkan dengan kelimpahan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang produktif.

Jabar dilimpahi tanah yang subur. Mengapa karunia sumber daya alam ini tidak dioptimalkan untuk menghasilkan produk yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif? Mengapa kita selalu latah menghasilkan produk yang sebenarnya tidak unggul?

Struktur biaya rendah sebenarnya dapat diciptakan dengan melakukan spesialisasi pada produk unggul tersebut. Dengan spesialisasi, seluruh sumber daya akan dikerahkan untuk menciptakan produk tersebut. Hasilnya, akan tercipta skala ekonomi. Dengan skala ekonomi, struktur biaya akan menurun seiring peningkatan hasil yang lebih besar.

Hikmah ACFTA

Apa sebenarnya pelajaran yang bisa diambil dari pelaksanaan ACFTA ini? Selama ini mungkin kita terlalu terlena dengan kelimpahan sumber daya yang kita miliki. Kita terlalu terlena dengan segala kemudahan yang diberikan Tuhan sehingga lupa bahwa kita memiliki potensi luar biasa untuk menjadi bangsa yang besar di bumi ini.

ACFTA seakan membuka tabir keterlenaan diri kita akan konsep efisiensi, konsistensi kebijakan, koordinasi kebijakan, keberlanjutan program, kepatuhan pada hukum, itikad politik, pelestarian budaya lokal, serta jati diri. Hasilnya, setiap pekerjaan tidak pernah ada yang tuntas.

Sudah saatnya kita kembali meluruskan niat untuk menjadi bangsa yang besar. ACFTA tidak mungkin lagi dihindari dan tidak mungkin kita menjadi bangsa yang suka ingkar janji. Mari kita hadapi ACFTA dengan bersinergi untuk menjadi pemenang dalam liberalisasi perdagangan ini. IMA AMALIAH Dosen Program Studi Ilmu Ekonomi Universitas Islam Bandung

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau