Susu Lokal Hanya Penuhi 20 Persen Kebutuhan

Kompas.com - 03/03/2010, 08:19 WIB

MALANG, KOMPAS.com - Hanya 20 persen kebutuhan susu nasional yang dipasok dari produksi sapi perah lokal, sementara sisanya dari impor. Padahal, pertumbuhan produk olahan susu mencapai 13 persen per tahun.

"Setiap tahun memang terjadi peningkatan pasokan susu, namun tetap tidak mencukupi kebutuhan industri," kata Pariatmoko, Section Head Dairy Development PT Nestle Indonesia.

"Kami menargetkan ke depan terjadi peningkatan rasio 60 persen untuk susu lokal," katanya di sela kunjungan wartawan ke koperasi peternak sapi di Pujon, Malang, Jawa Timur.

Di Jatim, tata-rata sapi indukan yang produktif setiap hari menghasilkan 10-12 liter susu segar. Jumlah itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan China. Sapi perah di sana bisa menghasilkan sekitar 60 liter susu segar setiap hari. "Cuaca di China lebih sejuk dibanding Indonesia sehingga sapi juga lebih produktif," jelas Pariatmoko.

Untuk meningkatkan industri pengolahan susu Indoesia, para peternak harus meningkatkan manajemen peternakan. "Mulai dari pakan, kebersihan, hingga kesehatan sapi harus dijaga agar mutu susu yang dihasilkan meningkat," katanya. PT Nestle Indonesia sendiri, mengimpor susu dari Australia, Selandia Baru dan Eropa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau