Penerbangan

Merpati Butuh Dana Sebesar Rp 2 Triliun

Kompas.com - 04/03/2010, 04:35 WIB

Jakarta, Kompas - PT Merpati Nusantara Airlines masih membutuhkan suntikan dana hingga Rp 2 triliun untuk menyehatkan kinerja keuangannya.

Dengan begitu, Merpati bisa terus melayani penerbangan, terutama fokus melayani kawasan Indonesia timur.

”Merpati masih butuh pendanaan hingga Rp 2 triliun meski restrukturisasi perusahaan sudah rampung,” kata Direktur Utama PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) Boyke Mukizat di Jakarta, Rabu (3/3).

Menurut Boyke, jumlah utang Merpati masih sangat signifikan sehingga perusahaan masih belum leluasa untuk mengembangkan bisnisnya.

Tahun ini, utang Merpati masih sebesar Rp 1,6 triliun, turun dari tahun sebelumnya sebesar Rp 2,2 triliun. ”Sebenarnya sudah ada suntikan dana Rp 300 miliar tahun lalu, tetapi perusahaan penerbangan pelat merah ini masih butuh dana investasi untuk mengembangkan perusahaan,” katanya.

Sekretaris Perusahaan Merpati Sukandi mengatakan, angka kebutuhan dana itu sudah didengar sejak tahun 2008. ”Tapi, kami belum mengetahui dengan pasti dari mana dana-dana itu akan datang,” ujarnya.

Menurut Sukandi, suntikan dana itu memang dibutuhkan. Pertama, untuk membeli armada pesawat baru yang lebih efisien dalam mengonsumsi bahan bakar dan kedua untuk melunasi utang-utang perusahaan.

Dari sisi operasional, kata Boyke, Merpati membutuhkan setidaknya 16 unit pesawat untuk menerbangi Indonesia bagian timur. Dia menambahkan, telah ada kesepakatan dengan Xian Aircraft untuk mendatangkan 16 pesawat jenis MA-60 dari China, dengan harga 15 juta dollar AS per pesawat.

Pesawat MA-60 itu adalah pesawat berbaling-baling yang biasanya melayani rute-rute perintis atau setidaknya kota-kota yang jarak terbangnya tidak terlalu jauh. Pesawat ini juga hanya bisa mendarat di bandara dengan landasan pacu yang terbatas.

Merpati sebenarnya telah berupaya menerbangkan kembali armadanya yang rusak dengan mengandalkan kerja sama operasi bersama pemerintah daerah.

Dengan begitu, pesawat-pesawat Fokker Merpati yang rusak dapat terbang lagi dan mendatangkan pendapatan.

Boyke menyebutkan, pertumbuhan pendapatan Merpati sebenarnya sudah positif, tetapi beban utang masih besar sehingga belum dapat mencatatkan laba bersih.

Hingga kini Merpati masih menyisakan utang kepada PT Pertamina, PT Angkasa Pura I, dan PT Angkasa Pura II. Pola penyelesaian utang, dengan mengajukan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU).

(ANTARA/RYO)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau