Jakarta, Kompas -
Dengan begitu, Merpati bisa terus melayani penerbangan, terutama fokus melayani kawasan Indonesia timur.
”Merpati masih butuh pendanaan hingga Rp 2 triliun meski restrukturisasi perusahaan sudah rampung,” kata Direktur Utama PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) Boyke Mukizat di Jakarta, Rabu (3/3).
Menurut Boyke, jumlah utang Merpati masih sangat signifikan sehingga perusahaan masih belum leluasa untuk mengembangkan bisnisnya.
Tahun ini, utang Merpati masih sebesar Rp 1,6 triliun, turun dari tahun sebelumnya sebesar Rp 2,2 triliun. ”Sebenarnya sudah ada suntikan dana Rp 300 miliar tahun lalu, tetapi perusahaan
Sekretaris Perusahaan Merpati Sukandi mengatakan, angka kebutuhan dana itu sudah didengar sejak tahun 2008. ”Tapi, kami belum mengetahui dengan pasti dari mana dana-dana itu akan datang,” ujarnya.
Menurut Sukandi, suntikan dana itu memang dibutuhkan. Pertama, untuk membeli armada pesawat baru yang lebih efisien dalam mengonsumsi bahan bakar dan kedua untuk melunasi utang-utang perusahaan.
Dari sisi operasional, kata
Pesawat MA-60 itu adalah pesawat berbaling-baling yang biasanya melayani rute-rute perintis atau setidaknya kota-kota yang jarak terbangnya tidak terlalu
Merpati sebenarnya telah berupaya menerbangkan kembali armadanya yang rusak dengan mengandalkan kerja sama operasi bersama pemerintah daerah.
Dengan begitu, pesawat-pesawat Fokker Merpati yang rusak dapat terbang lagi dan mendatangkan pendapatan.
Boyke menyebutkan, pertumbuhan pendapatan Merpati sebenarnya sudah positif, tetapi beban utang masih besar sehingga belum dapat mencatatkan laba bersih.
Hingga kini Merpati masih menyisakan utang kepada PT Pertamina, PT Angkasa Pura I, dan PT Angkasa Pura II. Pola penyelesaian utang, dengan mengajukan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU).