Jelajah Lima Museum Sambil Belajar Tentang Kota Kreatif

Kompas.com - 04/03/2010, 16:12 WIB

KOMPAS.com - Liverpool, Inggris, setelah Perang Dunia II dihadapkan pada tugas membenahi perumahan warga yang hancur kena bom. Lebih luas, membenahi kota yang sudah sejak tahun 1920-an morat-marit. Tahun 1950-an dan 1960-an kota ini gencar membangun kembali pusat kota mereka dan perumahan warga dalam bentuk flat.

Industri di Liverpool mengalami perkembangan dahsyat di antara tahun 1950-an dan 1960-an namun kemudian berubah di penghujung 1970 hingga 1980-an akibat resesi ekonomi. Alhasil, kota ini jadi kota yang ditinggalkan, jadi kota pengangguran dengan tingkat masalah sosial yang tinggi. Buntutnya adalah kerusuhan di tahun 1981.

Di tahun 1980-an Albert Dock, sebuah kompleks dermaga dan gudang dari tahun 1840-an dipugar kemudian berubah fungsi menjadi kawasan hiburan. Kawasan ini dialihfungsikan menjadi bar, toko, dan restoran.

Sejak itu, Liverpool terus berupaya mempromosikan wisata kota tersebut melalui pusaka budaya sebagai daya tarik.

Contoh lain adalah Glasgow, sebuah kota industi yang berkembang di abad 19. Pada 1980-an Glasgow menjadi kota pengangguran, tak sehat dan kota dengan citra negatif. Kemudian kota ini segera tanggap dengan mendesentralisasi dan menciptakan perusahaan lokal di kawasan yang paling terpinggirkan dan pemerintah mendanai upaya tersebut. Usaha itu berbuah, pada 1986 ada 38.000 pengangguran, begitu masuk tahun 2003 angka tadi sudah menjadi 17.000.

Kira-kira demikian yang akan disampaikan British Council Minggu 7 Maret nanti. British Council menggandeng Komunitas Jelajah Budaya (KJB) menggelar “Jelajah Kota Toea: Kota Kreatif  Dulu dan Sekarang, Pengalaman dari Inggris dan Indonesia.”  Acara tersebut gratis tapi terbatas hanya untuk 150 orang.

Menurut Ketua KJB Kartum Setiawan, jelajah kali ini akan mengambil rute ke lima museum di Kota Tua, yaitu Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Museum Wayang, Museum Sejarah Jakarta, dan Museum Seni Rupa dan Keramik. “Kita mulai jam 7.30 pagi dari Museum Bank Mandiri. Selain menjelajah museum, akan ada pemutaran film pendek tentang regenerasi Kota Tua di Inggris dan Indonesia. Kalau mau daftar silakan hubungi no hp 0817 99 401 73,” ujarnya.

Acara Jelajah Kota Toea kali ini menjadi bagian dari program Kota Kreatif Jakarta Punya! hasil kerja sama British Council, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan KADIN Jakarta. Acara berlangsung 7-13 Maret dan akan menghadirkan lokakarya dengan pakar manajemen kota kreatif Inggris, pemutaran film, serta puncak acara pertunjukan Video Mapping Projection karya seniman Inggris dan Indonesia . Melalui permainan cahaya 3-Dimensi yang diproyeksikan ke fasade Museum Sejarah Jakarta, penonton diajak menyaksikan masa depan kawasan ini sebagai ruang bermain kreatif abad ke-21.

Sekadar mengingatkan, kawasan Kota Tua Jakarta juga punya kisah tak terlalu jauh dengan dua kota di Inggris tadi. Sebagai kota pelabuhan yang pernah berjaya, Jakarta atau Batavia di masa jayanya, pernah berjuluk “The Queen of The East”.  Kalibesar yang kini bercitra bau dan kumuh, prnah jadi urat nadi perekonomian dan kehidupan Batavia.

Kota Tua terbentang dari Pelabuhan Sunda Kelapa-Kampung Luar Batang di utara hingga kawasan Glodok-Pecinan di ujung selatannya. Dalam usia yang nyaris 5 abad, wilayah seluas nyaris 850 hektar itu telah melalui transformasi yang panjang dan berliku, dari hutan rawa sebelum abad ke-14, benteng Belanda dan pusat pemerintahan abad ke-17, hingga ladang pembantaian bagi penduduk Tionghoa di abad 18. Di masa setelah kemerdekaan, jadi kota para begal. Kemudian zona inti Kota Tua, disebut Taman Fatahillah di mana berdiri bangunan bekas balai kota dari abad 18.

Di sana pernah pula jadi terminal bus dan masrkas militer. Revitalisasi Kota Tua dimulai secara fisik pada 2006/2007. Namun hingga kini, belum ada upaya membangkitkan kegiatan yang terarah di kawasan tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau