Lingkungan

Warga Keluhkan Limbah Citarum

Kompas.com - 04/03/2010, 16:20 WIB

BANDUNG, KOMPAS - Warga Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, mengeluhkan limbah pabrik tekstil dan garmen yang dibuang ke Sungai Citarum sehingga menimbulkan bau tidak sedap di permukiman. Warga meminta pabrik-pabrik itu menghentikan pembuangan limbah ke sungai dan mengelola limbah masing-masing melalui instalasi pengolahan air limbah.

Pembuangan limbah ke sungai itu seperti terpantau Kompas, Rabu (3/3) di tepi Jembatan Citarum di Desa Majalaya, Kecamatan Majalaya. Sebuah gorong-gorong yang menjadi tembusan dari selokan pabrik tekstil di kawasan itu mengarah langsung ke sungai dan mengalirkan limbah berwarna hitam pekat. Warga sekitar menuturkan, limbah itu adalah sisa obat kimia dan pewarna tekstil.

"Kalau malam hari, bau limbah yang menyengat tercium sampai ke permukiman. Beberapa kali aparat kampung mengingatkan pihak pabrik, tetapi tetap saja limbah dibuang ke sungai," kata Ekon

Mulyadi (30), warga RT 1 RW 10, Kampung Kondang, Desa Majalaya. Hampir semua pabrik tekstil dan garmen di Majalaya yang berjumlah 42 unit membuang limbah ke Citarum. Kondisi itu berlangsung selama bertahun-tahun. Bahkan, Ekon menuturkan, pembuangan limbah pabrik itu sudah diketahuinya sejak ia masih kecil. "Tetap saja buang ke sungai, dari dulu sampai sekarang," ujarnya.

Menghitam

Pencemaran limbah ke Citarum bisa dipantau dengan melihat warna air yang menghitam di sepanjang saluran air di Jalan Laswi yang menghubungkan Kecamatan Baleendah dengan Kecamatan Majalaya. Saluran itu terhubung langsung dengan selokan dari dalam pabrik yang mengalirkan limbah.

Itok (33), warga lain, mengatakan, warga sudah muak dengan perilaku pengusaha yang tidak mau menghentikan pembuangan limbah ke sungai. Apalagi, Majalaya didera banjir tahunan. Ketika Citarum meluap, sampah bercampur limbah industri dan domestik meluberi permukiman di Majalaya dan menimbulkan penyakit.

Deni Riswandani, Ketua Umum Elemen Lingkungan, mengaku sudah berkali-kali melaporkan pencemaran air itu kepada bupati hingga gubernur. Namun, belum ada tindakan tegas dari pemerintah daerah terhadap pabrik-pabrik yang membuang limbah ke Citarum.

"Pabrik-pabrik itu sebenarnya memiliki instalasi pengolahan air limbah masing-masing, tetapi tidak digunakan. Pemerintah seharusnya tidak lemah dan lebih tegas menegakkan aturan," ujar Deni. (REK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau