JAKARTA, KOMPAS.com — Suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate masih berpeluang naik pada semester II tahun ini antara 50 dan 100 basis poin atau mencapai 7,5 persen. Demikian disampaikan ekonom Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan, di Jakarta, Jumat (5/3/2010).
”Kami perkirakan baru akan pada semester kedua naik dari 6,5 persen ke 7,5 persen, tapi itu sesuai ekspektasi pasar. Sesuai ekpektasi BI Rate akan naik 50-100 bps pada tahun ini,” ujarnya.
Menurut dia, kenaikan BI Rate menjadi 7,5 persen pada semester kedua nanti akan dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia yang terus naik sehingga berpengaruh terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL). Hal ini memicu inflasi dan mendorong BI Rate.
Meski BI Rate diperkirakan naik, suku bunga perbankan diprediksi justru akan menurun secara perlahan. Penurunan suku bunga dipengaruhi oleh kondisi perekonomian yang semakin membaik dengan angka pertumbuhan ekonomi cukup tinggi.
Di sisi lain, longgarnya masalah likuiditas serta semakin menurunnya imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) dari kisaran 16 atau 17 persen pada 2008 menjadi hanya 8 persen juga turut mendorong penurunan suku bunga perbankan. ”Jadi, dengan turun imbal hasil SUN, suku bunga juga akan ikut turun,” katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang