Perguruan tinggi

Syarat Jadi Dosen Masih Berorientasi Akademik

Kompas.com - 05/03/2010, 14:39 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Umumnya untuk menjadi seorang dosen, yang dipersyaratkan selama ini hanya tingkat pendidikan tertentu dalam bidang yang akan diajarkan dengan nilai kelulusan yang baik. Menjadi dosen seperti "terjun bebas".

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa kebanyakan menjadi dosen di perguruan tinggi di Indonesia pada awalnya seakan-akan “dibiarkan terjun bebas”. Seorang dosen harus mengajar hanya berbekal pengetahuan di bidang pendidikannya dan pengalamannya ketika menjadi mahasiswa.

Demikian dikatakan Winarni Wilman, psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, dalam makalahnya berjudul "Pendekatan Psikologi untuk Optimalisasi Pengembangan Diri Dosen" yang dipresentasikannya di Kampus UI, Rabu (3/3/2010) lalu. Menurutnya, cukup beruntung kalau dosen muda bisa diberi kesempatan “magang” atau ikut di dalam tim pengajar dosen senior.

Winarni menambahkan, untuk pengembangan dalam metode mengajar, dosen di Indonesia mendapat kesempatan untuk mengikuti kursus singkat dalam rangka melengkapi pengetahuan dan keterampilannya sebagai dosen, yaitu Program Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (Pekerti) dan Applied Approach (AA).

Kedua program pelatihan itu dirancang Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional (Ditjen Dikti Kemdiknas) untuk peningkatan kompetensi pedagogik para dosen. Jika Pekerti ditujukan untuk dosen muda, AA ditujukan untuk dosen senior.

"Tetapi kalau melihat isinya, yang ditekankan dari kedua program ini hanya pengetahuan dan kemampuan dosen dalam pengajaran, misalnya mampu menjelaskan tujuan umum dan khusus dari perkuliahan, mempersiapkan materi perkuliahan, serta mampu mempraktikkan penyajian dari perkuliahan tertentu," ujarnya.

Orientasi akademik

Melihat hal tersebut di atas, Winarni mengatakan, timbul kesan bahwa seorang dosen yang berlatar belakang pendidikan di bidang tertentu, dengan gelar kesarjanaan di tingkat tertentu, dan ditambah pelatihan tentang bagaimana menyajikan bahan perkuliahan, sudah cukup memadai untuk menjadi seorang dosen andal.

Memang, selain pelatihan Pekerti dan AA, dosen juga kemudian diberi kesempatan untuk mengikuti berbagai kursus atau pelatihan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilannya, misalnya, pelatihan tentang berbagai metode mengajar, metodologi penelitian, membuat proposal penelitian, menulis artikel jurnal, menyajikan kuliah dalam bahasa Inggris, dan komputer.

"Namun, orientasi dari semua itu tetap pada pengetahuan dan keterampilan mengajar dan penelitian saja. Saya pikir, hal tersebut baru mencakup dua aspek saja, yaitu pengajaran dan pendidikan, serta penelitian," tutur Winarni.

Sementara itu, untuk aspek pengabdian masyarakat, Winarni, yang merupakan seorang dosen sekaligus psikolog, cukup beruntung karena diharuskan mempunyai pengalaman praktik melayani klien-klien yang datang dengan berbagai permasalahan.

"Sehingga terbiasa berhadapan dengan masyarakat," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau