JAKARTA, KOMPAS.com - Entah apakah hal ini disengaja atau tidak, yang jelas, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono sama-sama menganalogikan situasi yang dipercaya krisis ketika penyelamatan Bank Century dilakukan sebagai kebakaran.
Hal ini terungkap pada pidato Presiden yang disampaikan Kamis kemarin di Istana Merdeka, Jakarta, dan pidato Wapres, Jumat (5/3/2010) di Gedung II Istana Wapres, Jakarta.
Presiden, yang menyampaikan pidatonya dengan menggunakan bantuan teleprompter, menyampaikan bahwa dirinya berkeyakinan kuat bahwa saat itu keadaan tengah dalam keadaan krisis. "Siapa saja berkewajiban untuk memadamkan sekecil apapun api yang dapat jadi pemicu kebakaran yang akan melumpuhkan dunia perbankan," ujar Presiden dengan didampingi Boediono, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan lainnya.
Nah, hal yang sama juga disampaikan Boediono, yang juga didampingi Sri Mulyani, dan beberapa menteri lainnya. "Pada waktu itu, Bank Century ibarat sebuah rumah yang terbakar di sebuah kampung yang rentan oleh bahaya api. Rumah itu harus kita selamatkan agar api tidak menjalar, meskipun pemiliknya seorang perampok. Jelas, si perampok harus ditangkap, tetapi kita tak bisa membiarkan kebakaran di rumahnya turut memusnahkan seluruh kampung," ujar Wapres.
Keduanya juga secara kompak mengatakan, perbankan dapat terancam jika Bank Century dibiarkan ambruk. "Dunia perbankan bukanlah hanya milik para bankir. Dunia perbankan berkaitan erat dengan kehidupan sosial ekonomi rakyat, seperti pedagang kecil, petani, pegawai, bahkan pensiunan, penata- laksana rumah tangga, dan mahasiswa," ujar Presiden.
"Dampaknya akan memukul seluruh rakyat, baik yang memiliki dana di bank maupun yang tidak," ujar Boediono dengan tenang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang