"Hurt Locker" Mencuri Cerita Seorang Ahli Bom?

Kompas.com - 06/03/2010, 02:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com--Seorang sersan angkatan Darat Amerika Serikat (AS) pada hari Rabu mengatakan dia merasa dikhianati karena kisahnya dicuri oleh para pembuat film "The Hurt Locker".

Sersan Kepala Jeffrey S. Sarver (38) telah mengajukan gugatan hukum karena menganggap para pembuat film itu tanpa izin telah menggunakan pengalamannya dalam menjinakkan bom di Irak.

Sarver dalam konferensi pers mengatakan dia akan "happy" jika menjadi konsultan untuk penyusun skenario, Mark Boal, dan sutradara Kathryn Bigelow. Tapi hal itu tidak pernah terjadi.

"Saya kurang lebih merasa ditinggalkan," kata Sarver. "Saya tidak tahu hak-hak saya."

Setelah Sarver mengajukan gugatan pada Kamis, distributor film Summit Entertainment, mengeluarkan pernyataan untuk menegaskan bahwa film itu hanya sebuah "cerita fiksi" tentang tentara di medan perang.

Sarver adalah muncul pada majalah Playboy tahun 2005 lewat artikel berjudul "Sosok Dalam Pakaian Bom."

Artikel itu ditulis oleh Boal, penulis skenario film "The Hurt Locker" berdasarkan pengamatannya sebagai reporter "emmbedded" dengan kelompok penjinak bom pimpinan Sarver di Irak pada 2004.

Pengacara sarver, Geoffrey Fieger berkata tokoh utama dalam film, Will James, sangat jelas menggambarkan kliennya, merujuk kepada kata sandi "Blaster One."

"Jika seseorang memberitahumu bahwa sersan Sarver bukan Will James, itu sebuah pertanyaan yang lucu," kata Fieger.

"The Hurt Locker" telah dinominasikan untuk sembilan Oscar. Film ini telah menerima banyak pujian dari kritikus dan menjadi kandidat utama untuk film terbaik Academy Award yang akan dianugerahkan pada Minggu.

Fieger menolak untuk menyebutkan jumlah uang dalam gugatan itu. Dia berkata Summit Entertainment, Distributor AS untuk "The Hurt Locker" dan produser film itu tidak akan digugat, andai saja mereka mencantumkan bahwa kisah tersebut berdasarkan pengalaman Sarver di Iraq.

"Ini praktik yang lazim," kata Fieger. "Sekarang, karena tertangkap basah, kita melihat hal-hal yang mereka lakukan agar tidak perlu membayar kesalahan."

"The Hurt Locker," dirilis pada Juni lalu mendapat keuntungan kotor 19 juta dolar AS dari seluruh dunia. Anggaran pembuatannya sekitar 15 juta dolar AS.

Fieger berkata dia telah berkomunikasi selama berbulan-bulan dengan Summit Entertainment dan produser Nicholas Chartier.

Kepada wartawan, dia membagikan salinan email akhir Desember dari Chartier yang menyebut tak pernah mendengar tentang Sarver.

"Saya tidak pernah berbuat tidak adil dengannya. Saya tidak pernah mendengar tentangnya. ... Apakah saya mencuri pacarnya? Tidak pernah mendengarnya."

Email lainnya pada pekan ini menimbulkan masalah bagi Chartier yang untung besar dari film itu.

Chartier, dengan melanggar aturan Academy Award, mengirim email kepada pemilih Oscar untuk meminta mereka memilih "The Hurt Locker" yang dia sebut sebagai "film seharga 500 juta dolar AS,".

Chartier dilarang menghadiri upacara penghargaan yang akan diselenggarakan pada pekan ini. Dia menolak berkomentar melalui juru bicara.

Boal berkata kepada Koran Los Angeles Times pada hari Selasa a telah berbicara dengan lebih dari seratus tentara selama riset."Dan mengubah segalanya sebagaimana yang telah saya pelajari, tetapi juga membuat cerita yang dramatis."

Tapi, hal itu dibantah Fieger.

"Boal bilang dia mewawancara ratusan tentara dan mengatakan film itu adalah campuran dari berbagai penjinak bom. Itu adsurd karena sebenarnya dia hanya.berbicara dengan Sarver."

Sarver tinggal di New Jersey sebelum pindah ke Clarksville, Tennesess, AS. Dia telah bertugas selama 18 tahun di Angkatan Darat AS.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau