Kilasan peristiwa

Awalnya Bercanda, Wakil Rakyat Adu Jotos

Kompas.com - 07/03/2010, 09:09 WIB

 

Sejumlah orang yang hadir di Gedung DPRD Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, dibuat kaget oleh ulah dua anggota DPRD yang tiba-tiba adu jotos. Pertengkaran heboh itu membuat beberapa perempuan di sekitar arena perkelahian berteriak histeris.

 

Sebelumnya, tak ada yang tahu apa penyebab pertengkaran yang melibatkan Samsudin dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Yoga Sugama dari Fraksi Gerindra Nurani Rakyat. Namun, menurut beberapa saksi yang sempat mendengar keributan di antara keduanya, perselisihan bermula ketika salah satu di antara mereka melontarkan gurauan terkait perolehan suara. Gurauan itu berlanjut dengan perang mulut.

 

Entah bagaimana cerita perang mulut itu, tiba-tiba bogem mentah Yoga Sugama mendarat di pipi kiri Samsudin. Yoga mengklaim pukulannya itu merupakan reaksi dari upaya yang sama dari Samsudin yang juga ingin memukul dirinya. ”Ini perkelahian, kami sama-sama berusaha memukul. Kebetulan saja dia yang kena,” dalih Yoga.

 

Yoga mengaku pertengkaran itu dipicu oleh omongan Samsudin yang mengatakan bahwa perolehan 1.000 suara tidak akan dapat memengaruhi keputusan rapat rancangan peraturan daerah mengenai pasar modern di mana keduanya terlibat. Perolehan 1.000 suara itu merujuk pada perolehan suara yang didapatkan Yoga pada Pemilu 2009.

 

Sebaliknya, kata Yoga menirukan ucapan Samsudin, anggota DPRD dengan perolehan suara sampai 5.000 yang akan menentukan keputusan rapat. Jumlah itu tak lain adalah perolehan suara yang didapat Samsudin. ”Ini kan sangat menghina karena kami duduk sebagai anggota Dewan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat, bukan lagi mempermasalahkan perolehan suara,” ucap Yoga.

 

Samsudin yang terkena bogem akhirnya dirawat di RS Wijaya Kusuma, Purwokerto, meski tak tampak cedera di wajahnya. Kendati demikian, ia tetap diberi infus. ”Saya tidak dapat bicara banyak. Silakan tanya saja kepada pengacara saya,” kata Samsudin pendek.

 

Melalui pengacaranya, Susetyo, ia melaporkan pemukulan yang dialaminya kepada Kepolisian Resor Banyumas. Menurut Susetyo, laporan itu nantinya akan dilengkapi hasil visum dokter. ”Hasil visumnya belum selesai sehingga masih menunggu,” kata Susetyo.

 

Menanggapi perkelahian dua wakil rakyat itu, Ketua DPRD Banyumas Juli Krisdianto berharap agar keduanya menyelesaikan perselisihan secara damai. Apalagi keduanya sama-sama anggota panitia khusus pembahasan rancangan perda pasar modern.

”Kalau sudah tidak harmonis hubungan personelnya, bagaimana mau sinergi dalam bekerja. Makanya kami berharap agar mereka dapat menuntaskan permasalahannya dengan damai,” kata Juli.

 

Lagi pula, kalau bisanya cuma ribut, apalagi sampai adu otot, kapan waktunya mengurus rakyat.... (MDN)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau