Makan Sehat Itu Seksi!

Kompas.com - 08/03/2010, 14:50 WIB

KOMPAS.com - Sejak dahulu kala makan selalu melekat pada ritual-sosial. Makan tak ubahnya bagai perayaan untuk menumbuhkan kebersamaan, merajut persaudaraan, kedekatan dengan Pencipta, dan bahkan menjadi wahana untuk menuju kesepakatan bisnis.

Serbuan makanan cepat saji memang kemudian mengakomodasi perubahan perilaku pada masyarakat modern, yang cenderung serba ingin cepat. Makan siang, misalnya, menjadi sebuah kesempatan dan bukan lagi penikmatan, apalagi memerhatikan kandungan dalam sajian. Kecenderungan inilah yang ditangkap sebagai peluang oleh pasangan Eddy Purnomo-Irene. Sejak November 2009, mereka sepakat membuka restoran yang diberi nama Daddy’s Kitchen di kawasan bundaran Renon, kota Denpasar, Bali.

Tergolong baru memang. Tetapi, membuka restoran bagi Eddy dan Irene tidak sekadar menjejer makanan lalu berjualan dan pembeli datang, kenyang, kemudian pulang. Mereka terlebih dahulu membangun dasar-dasar filosofi restoran dan bahkan pada setiap menu yang disajikan. Sebagai bagian dari masyarakat urban, Eddy sadar bahwa kini makan tak lagi sekadar ritual atau cepat saji, tetapi mengandung pengertian….

”Makan dengan pengertian adalah konsep dasar kami,” tutur Eddy, akhir Februari lalu. Maksudnya, sekali lagi, makan tidak sekadar ritual dan kenyang, tetapi hendaklah dibarengi dengan pengertian akan kesehatan. ”Kita harus bertanggung jawab terhadap apa yang masuk ke dalam tubuh kita,” ujar Eddy lagi.

Itulah sebabnya, sebelum membuka-buka daftar menu, Irene, yang mengonsep seluruh restoran, membuat semacam prolog. Bunyinya begini, ”... Di tengah serbuan makanan siap saji yang ada di masyarakat, kami hadir dengan menu-menu yang lebih berpihak terhadap kesehatan. Makan dengan pengertian adalah konsep dasar kami, karena kesehatan yang baik diawali makan yang sehat. Kesehatan adalah sebuah pilihan, bukan kebetulan…”.

Filosofi
Bukalah segera daftar menu restoran ini sebelum Anda memutuskan memesan makanan. Pada halaman pertama tertulis menu bernama Profesor. Cukup unik dan membangkitkan rasa ingin tahu. Menu ini bukan sekadar ayam tim biasa. Ia diracik dari tujuh macam ramuan obat china yang khas. Menurut Eddy, di dalam ayam tim berkuah ini di antaranya terdapat tongkue, tongseru, waisan, angco, dan tiel. Semua bahan obat china itu diracik dengan ayam dan jamur shitake. Khasiatnya, tambah Eddy, untuk menguatkan jantung, menambah darah, menjaga stamina, dan menjaga kesehatan mata. Dan semua khasiat itu ditulis sebagai pengantar menu.

Eddy berani menjamin bahwa khasiat itu bukan omong kosong. Ia meramu menu berdasarkan warisan leluhurnya dari Negeri Tirai Bambu. ”Racikan itu dari bahan-bahan obat china yang sudah ditemukan ribuan tahun,” tutur Eddy.

Rasa ayam Profesor ini sangat ringan dan beraroma jahe. Daging ayamnya pun lembut sehingga tidak sulit menyantapnya. Daddy’s Kitchen memadukan menu ini dengan nasi tim merah, yang memang berasal dari beras merah kualitas baik. Kemudian untuk lebih menghangatkan badan di musim hujan, Anda bisa memesan teh krisan. Restoran ini menyajikan segelas teh krisan dengan menyeduh bunga krisan asli yang diimpor langsung dari China. Konon minuman ini pun baik untuk kesehatan.

Nah, kalau Anda kemudian butuh makanan penutup yang tak kalah sehat, tinggal memesan apa yang disebut Guilinggao (baca: Wilingkao). Dilarang kaget! Bahan dasar menu ini juga didatangkan langsung dari daratan Tiongkok yang konon telah dikonsumsi selama ratusan tahun. Menu yang diberi nama Kura-kura Ninja ini memang diramu dari tempurung kura-kura ditambah beberapa herbal lain. Warnanya hitam kental mirip agar-agar. ”Bila dikonsumsi rutin bisa menghaluskan kulit,” kata Eddy.

Pasangan Yunan-Dewi beserta putra mereka yang berusia 7 tahun adalah konsumen setia. Menurut Dewi, sekarang makan tidak cukup hanya sekadar enak dan kenyang. ”Kita sudah mulai pikirkan, makan itu harus sehat. Ketemunya di Daddy’s ini,” tutur Dewi. Menu yang tak pernah mereka lewatkan adalah Guilinggao. ”Enak, kenyal, tapi sehat…,” kata Dewi.

Jika ingin sekadar sarapan, restoran kecil yang didominasi warna merah ini menyiapkan menu bernama Dr Gizi. Ia diracik dari keluarga biji-bijian dan polong-polongan yang sering disebut dengan istilah multi-grain. Di dalamnya terdapat kacang hijau, barley/jali, kacang adzuki, lentil, dan black turtle bean. ”Menu ini mengandung asam amino lengkap sebagai pengganti protein hewani,” kata Eddy.

Tentu saja lalu yang paling istimewa, seluruh sajian menu akan dimasak langsung oleh Eddy dan keponakannya, Irene Veronica (keponakan dari Irene, istri Eddy).

Dengan lincah dan fasih, Vero mengadon dan menyiapkan menu di dapur yang kecil. Mereka memang memiliki setidaknya empat karyawan. Tetapi, demi menjaga kualitas makanan, apalagi yang menjual kesehatan, Eddy memilih memasak sendiri makanan yang disajikan kepada setiap konsumen. Jadi makan sehat itu tak hanya filosofi, tetapi juga seksi!

(Putu Fajar Arcana)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau