Israel Setuju Bangun 112 Rumah di Tepi Barat

Kompas.com - 08/03/2010, 16:38 WIB

JERUSALEM, KOMPAS.com - Israel memberi lampu hijau untuk membangun 112 rumah baru di permukiman dudukan Yahudi di Tepi Barat meskipun ada penundaan sebagian atas pembangunan semacam itu.

Rumah itu akan dibangun di permukiman Beitar Ilit di dekat Betlehem, kata Menteri Lingkungan Hidup Gilad Erdan kepada radio umum, Senin. Kelanjutan perluasan permukiman Israel merupakan salah satu perintang terbesar bagi pembukaan kembali pembicaraan perdamaian dengan Palestina, yang terhenti lebih dari setahun.

Kegiatan baru itu terjadi sehari sesudah Palestina menyetujui pembicaraan tak langsung perdamaian dengan Israel, tapi memperingatkan bahwa perundingan yang ditengahi Amerika Serikat itu dapat gagal jika Israel terus memperluas permukiman. Palestina bersikeras hanya akan kembali ke perundingan langsung jika Israel menyetujui pembekuan penuh atas pembangunan permukiman di daerah pendudukan Tepi Barat, termasuk Yerusalem timur.

Israel mengumumkan penundaan 10 bulan atas izin baru pembangunan rumah bagi pemukim di Tepi Barat pada akhir November, tapi mengecualikan Yerusalem timur. Masyarakat dunia menilai semua permukiman Israel di tanah Palestina tidak sah.

Sekitar 3.000 orang Israel, termasuk beberapa warga Palestina, pada Sabtu berunjukrasa menentang permukiman Yahudi di Yerusalem timur. Para pengunjukrasa, di antara mereka pegiat perdamaian dan anggota sayap kiri, melambaikan bendera memuat prasasti "Shalom" (perdamaian dalam bahasa Yahudi) dalam unjuk rasa di Sheikh Jarrah itu.

Mereka menyanyikan semboyan, seperti, "Tidak untuk pembersihan bangsa" dan "Warga Sheikh Jarrah tidak kehilangan harapan. Kami akan merintangi jalan ke permukiman". Satuan besar polisi menyaksikan unjuk rasa itu, yang terbesar dalam beberapa dasawarsa terhadap permukiman Yahudi di Yerusalem.

Polisi ingin melarangnya, tapi unjuk rasa itu akhirnya disetujui mahkamah agung dalam banding, yang dilancarkan gerakan kiri-jauh. Unjuk rasa itu terjadi di tengah ketegangan di Kota Tua tersebut setelah beberapa hari bentrok antara polisi penanggulangan kerusuhan Israel dengan penentang Palestina di sekitar Masjid Al-Aqsha dan beberapa lingkungan Arab di Jerusalem.

Beberapa keluarga Palestina di Sheikh Jarrah diusir dalam beberapa bulan belakangan untuk kepentingan pemukim Israel atas dasar rumah mereka milik orang Yahudi sebelum Israel dibentuk pada 1948. Pengusiran itu menimbulkan unjuk rasa, yang ditumpas polisi, yang menangkap sejumlah pegiat perdamaian Israel dan orang asing pendukung Palestina.

Israel mencaplok Yerusalem timur setelah perang Timur Tengah 1967 dan membangun permukiman baru untuk menampung lebih dari 200.000 orang Yahudi. Pencaplokan itu tak pernah diakui masyarakat dunia. Palestina mengecam permukiman di Yerusalem timur, yang mereka inginkan untuk dijadikan ibukota negara mendatang mereka.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau