Bank Dunia Jajaki Bantu Pembangunan Rumah Murah

Kompas.com - 09/03/2010, 11:42 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia melakukan pembahasan mengenai program pembangunan perumahan dan permukiman di Indonesia. Pemerintah berharap Bank Dunia membantu pembangunan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan masyarakat berpenghasilan menengah (MBM).

Sekretaris Kementerian Perumahan Rakyat (Sesmenpera) Iskandar Saleh menyatakan, melalui pembahasan bersama antara Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia ini, kedua belah pihak bisa menyamakan pendapat mengenai masa depan pembangunan perumahan dan permukiman di Indonesia.

“Kami berharap pembahasan bersama ini bisa menyamakan pendapat pemerintah Indonesia dan Bank Dunia terkait pembangunan perumahan dan permukiman di Indonesia,” ujar Iskandar Saleh di sela-sela pertemuan antara Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) dan perwakilan Bank Dunia di Kantor Kemenpera, Jakarta, Senin.

Hadir dalam pertemuan itu sejumlah perwakilan dari Bank Dunia, Bappenas, BPN, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Keuangan, Kementerian Dalam Negeri, Perum Perumnas. Perwakilan Bank Dunia yang hadir dalam pertemuan itu sebanyak enam orang yang dipimpin oleh Peter Ellis.

Dalam pertemuan itu, Kemenpera memaparkan mengenai tantangan dan prioritas pembangunan perumahan di Indonesia seperti pengembangan kawasan dan rumah swadaya, program pembiayaan perumahan, fasilitas likuiditas perumahan dan perumahan formal.

Iskandar Saleh menjelaskan, bantuan Bank Dunia dapat membantu program pemerintah memenuhi kebutuhan rumah layak huni. Dari tahun ke tahun, jumlah kebutuhan perumahan meningkat dari 5,8 juta rumah pada tahun 2004 menjadi 7,4 juta rumah pada akhir tahun 2009. Sedangkan luas kawasan kumuh meningkat dari 54.000 hektar pada tahun 2004 menjadi 57.800 hektar pada tahun 2009.

“Kemenpera menargetkan membangun 1,5 juta unit rumah selama lima tahun mulai tahun 2010 hingga 2014 mendatang. Kami ingin Bank Dunia mengetahui kebutuhan rumah di Indonesia sangat tinggi,” terangnya.

Sementara itu, Koordinator Perwakilan Bank Dunia Peter Ellis menyatakan akan berusaha membantu Pemerintah Indonesia mengatasi masalah perumahan dan permukiman. Namun demikian, pihaknya ingin mempelajari lebih lanjut, program apa saja yang dibutuhkan Pemerintah Indonesia.

“Kami sangat ingin membantu Pemerintah Indonesia mengatasi masalah perumahan. Kami harap pemerintah bisa memberikan penjelasan tentang bantuan apa saja yang dibutuhkan,” terangnya.

Perwakilan Bank Dunia dalam lima hari ke depan, mulai Senin hingga Jumat mendatang, melakukan koordinasi dengan perwakilan dari Kemenpera, Bappenas, BPN, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Keuangan, Kementerian Dalam Negeri, Perum Perumnas. Selain itu, mereka melakukan kunjungan lapangan ke beberapa proyek pembangunan Kemenpera seperti pengembangan kawasan di Kota Kekerabatan Maja dan rumah susun sederhana milik (Rusunami) di Cengkareng dan Pulogebang, Jakarta Timur. (Sumber: kemenpera.go.id)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau