DPR: TDL Naik, Subsidi Harus Dipangkas

Kompas.com - 09/03/2010, 17:14 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - DPR mempertanyakan rencana kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) pada Juli tahun ini. Pasalnya, rencana kenaikan TDL ini justru dibarengi dengan membengkaknya lokasi beban subsidi listrik yang bertambah menjadi Rp 16,7 triliun dalam APBN Perubahan 2010 yang bakal diajukan pemerintah. 

"Itu rugi uang dua kali kita. Pertama, subsidi naik kan sudah memukul uang negara itu. Terus masa TDL mau naik pula. Di pukul semuanya ini," ujar Kepala Badan Anggaran DPR Harry Azhar Aziz, kepada Kompas.com, Jakarta, Selasa (9/3/2010).

Bila pemerintah menaikkan TDL, kata Harry, seharusnya alokasi subsidi untuk listrik dalam APBN-P 2010 dipangkas. Menurutnya, subsidi tersebut dapat dialihkan untuk sektor infrastruktur demi menunjang pertumbuhan ekonomi.

Sekedar mengingatkan, dalam Nota Keuangan dan RAPBN-P 2010 menjelaskan beban subsidi listrik pada tahun ini mencapai Rp 54,5 triliun atau meningkat 44,2 persen dari alokasi awal di APBN yang hanya Rp 37,8 triliun. "Saya enggak ngerti apa yang terjadi di negara ini. Seharusnya entah itu bagaimana, apa subsidinya dikurangi terus bangun infrastruktur," cetusnya.

Dia meyakini, pembahasan antara DPR dan pemerintah terkait kenaikan TDL bakal memakan waktu panjang. Nantinya, DPR akan meminta penjelasan kepada pemerintah tentang struktur TDL yang akan dinaikkan.

Diharapkan, kenaikan TDL ini diiringi dengan perbaikan kinerja PT PLN secara nyata. Pasalnya, selama ini semua sektor termasuk para pelaku industri mengeluhkan masalah suplai listrik yang masih byar pet. "Dengan kenaikan TDL itu, kinerja PLN bagaimana. Itu komitmen byar pet-nya harus dipenuhi PLN. Pemerintah harus meminta PLN untuk memenuhi ini," tandasnya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau