Di Jakarta Timur, Polsek Polsek Metro Cakung menangkap empat tersangka pencuri 50 sepeda motor. Mereka adalah WH, Riz, Don, dan As. Menurut Kepala Polsek Metro Cakung Komisaris Yudhi Sulastio, tiga tersangka lain masih buron.
”Salah seorang di antara ketiga tersangka yang masih buron selalu membawa senjata api. Meski demikian, menurut rekan-rekan mereka yang kami tangkap, senjata api tersebut belum pernah digunakan untuk melukai korban. Baru sebatas menakut-nakuti,” papar Yudhi.
Ia mengatakan, kelompok ”pemetik” sepeda motor ini populer disebut Kelompok Lampung. ”Mereka sudah lima tahun beraksi. Setahun belakangan mereka mulai mengejar target, sehari lima sepeda motor harus bisa mereka curi.” katanya.
Kemarin, tampak 12 sepeda motor hasil curian kelompok ini telah dikumpulkan polisi. ”Warga yang kehilangan sepeda motor bisa datang mengambil sepeda motornya di Polsek Cakung dengan membawa surat-surat yang dibutuhkan,” jelas Yudhi.
Kepada wartawan, keempat tersangka mengaku beraksi hanya di kawasan Cakung. Sepeda motor curian mereka jual ke Babelan Bekasi, dan Kerawang, Jawa Barat.
Di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Zulfah Hermon (43), sopir taksi Indah Family, nyaris dirampok dua remaja di bawah umur. Kepada wartawan di Markas Polres Metro Pelabuhan Tanjung Priok, Zulfah menjelaskan, kedua remaja yang hendak merampok itu adalah Don (14) dan Adr (17).
Keduanya naik taksi Zulfah di Bekasi. ”Semula mereka minta diantar ke Pasar Baru Bekasi, tetapi terus minta diantar ke Pelabuhan Tanjung Priok,” kata Zulfah.
Di perjalanan, tidak ada percakapan di antara kedua remaja itu. Salah seorang duduk di samping sopir, sedangkan yang satunya di belakang.
Di kawasan pelabuhan, mereka sempat minta dibawa berkeliling hingga dua kali. ”Tahu-tahu salah seorang dari mereka menjerat leher saya dari belakang dengan tali rem motor,” kata Zulfah.
Zulfah mengaku dirinya nyaris tidak bisa bernapas. Meski demikian, ia berusaha keras berteriak minta tolong. Teriakan korban itulah yang membuat kedua pelaku panik dan buru-buru turun dari taksi bernomor polisi B-2630-BL.
Kedua remaja itu berlari ke halaman Bengkel Pusat Perbekalan Angkatan Darat. Saat berada di lokasi itulah kedua tersangka itu ditangkap dan diserahkan ke Polres Metro Pelabuhan Tanjung Priok. ”Tidak ada uang yang sempat mereka ambil. Mungkin mereka benar-benar panik,” ujar Zulfah.
Menurut Zulfah, saat kejadian, angka di argometer taksinya telah menunjukkan angka sebesar Rp 120.000.
Kedua tersangka, Don dan Adr, kepada wartawan mengaku baru pertama melakukan aksinya. Oleh karena itu, mereka panik dan gagal merampok. Kedua remaja jalanan ini mengatakan, mereka nekat merampok karena tidak punya uang untuk makan.
Di Kemayoran, Alfajrian (32) atau Rian yang mengaku anggota TNI, memaksa sopir taksi Gamya, Ahmad Sugiarto, mengantarnya. Keduanya bertemu di sebuah warung di Jalan Kran V, Selasa (9/3) pukul 04.30.
Ahmad menolak karena sedang menunggu pemesan taksi. Rian kemudian mendesak sopir taksi tersebut membatalkan pesanan dan mengantarnya.
Ahmad akhirnya mau mengantar Rian. Akan tetapi, saat Ahmad keluar dari taksi, Rian mengambil alih kemudi dan membawa mobil ke Jalan Gunung Sahari Raya menuju ke Senen.
Melihat mobil dilarikan Rian, Ahmad segera menghubungi rekan-rekannya lewat telepon untuk meminta bantuan. Seorang sopir taksi Gamya yang melihat taksi Ahmad di kawasan Senen mengejar dan berniat menabrakkan mobilnya ke mobil taksi Ahmad.
Melihat hal itu, Rian mengemudi mobil ke arah Matraman. Akan tetapi, sebuah taksi Gamya lainnya datang dan berusaha memepet taksi yang dikemudikan Rian.
Ia akhirnya menghentikan taksi yang dikemudikan. Massa yang berdatangan menghajar Rian hingga babak belur. Ia lalu dibawa dan ditahan di Polsek Metro Kemayoran.
Kepala Polres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Hamidin dan Kepala Polsek Metro Kemayoran Komisaris JR Sitinjak membenarkan pencurian taksi itu.
”Dari keterangan tersangka, taksi itu hendak dijual dan uangnya bakal dipakai untuk pulang ke kampung,” kata Sitinjak.