TANGERANG, KOMPAS.com — Komplotan Dulmatin, yang digerebek polisi di Pamulang, tinggal saling berdekatan di kawasan Pamulang. Selain kerap berkunjung ke rumah mantri Fauzi di Gang Asem, Pamulang, mereka juga mengontrak berdekatan di sekitar Kelurahan Pondok Benda, Kecamatan Pamulang.
Dulmatin diketahui mengontrak di Jalan Salak 5, Pondok Benda, Pamulang, selama delapan bulan terakhir. Dari pengakuan warga sekitar, Dulmatin yang mengaku bernama Ibrahim itu tinggal bersama seorang anak dan istrinya. Ia kemudian pindah dan tidak lagi diketahui warga sekitar delapan bulan sebelum terjadi penyergapan di Warnet Multiplus, Pamulang.
”Dia tinggal di sini ya, sekitar delapan bulan. Terus dia pindah, bilangnya mau ke Lampung. Ternyata setelah pengumuman polisi tadi, dia itu ternyata Dulmatin,” kata Sinurat, tetangga Ibrahim di Jalan Salak 5, Pondok Benda, Pamulang.
Tak jauh dari situ, beberapa rekan Ibrahim, yang diduga Ridwan dan Hasan, juga mengontrak di dua kontrakan. Ridwan dan Hasan diperkirakan merupakan pengontrak di sebuah kontrakan di Gang Madrasah, Jalan Salak, Pamulang. Warga menuturkan, Marko, yang mengontrak di tempat itu, sama dengan Ridwan, teroris yang tewas di tangan Densus 88 Antiteror.
”Memang dia itu yang sering di sini. Dia tinggal bareng perempuan pakai cadar. Kami tahunya itu istrinya,” kata Eka Hutagalung, warga sekitar kontrakan tersebut.
Hanya berjarak tak lebih dari 30 meter, beberapa rekan Dulmatin juga diketahui mengontrak di kontrakan lainnya di Gang Madrasah. ”Ada dua. Namanya Rosi dan Rebo. Rebo ini punya anak dan istri,” kata Sulaiman, salah satu tetangga di situ.
Rosi diketahui warga sering didatangi tamu-tamu yang tak lain adalah Dulmatin dan diduga Ridwan serta Hasan. Mereka kerap saling kunjung-mengunjungi ke kontrakan masing-masing. Sulaiman mengatakan, Yahya Ibrahim alias Dulmatin kerap datang ke rumah Rosi.
Ia akhirnya mengetahui dari pengumuman di Mabes Polri bahwa Yahya Ibrahim yang sering datang itu ternyata adalah Dulmatin. ”Memang sering ke sini. Kalau datang siang sampai malam kadang-kadang,” ujarnya.
Hampir semua warga dan tetangga di tiap-tiap kontrakan tersangka teroris itu menaruh curiga terhadap aktivitas mereka. Penampilan dan aktivitas yang mencurigakan serta sikap yang tertutup dengan warga sekitar membuat warga menduga-duga adanya keterkaitan dengan teroris. ”Cuma kami kan ya enggak enak kalau menuduh. Biasanya kalau teroris itu kan cuma liat di televisi. Ya enggak nyangka aja kalau ternyata mereka itu teroris,” ujar Sinurat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang