Mereka Bergaul dengan Tetangga

Kompas.com - 11/03/2010, 08:49 WIB

KOMPAS.com — Menyusuri Gang Asem, Jalan Setiabudi, Pamulang Barat, Tangerang, Rabu (10/3/2010), keakraban antartetangga cukup kental terasa. Gang selebar 2 meter itu dipadati rumah penduduk, warung, dan rumah-rumah petak yang dikontrakkan. Anak-anak kecil bebas berlarian bermain di gang ini seiring aktivitas sebagian warga yang membuka warung makan atau toko kelontong kecil-kecilan. Saling sapa, ibu-ibu ngerumpi, dan para bapak yang asyik bergerombol menjadi pemandangan umum. Kondisi ini melenyapkan kesan tingginya sifat dan sikap individual antarwarganya.

Keakraban antarwarga ini menerbitkan pertanyaan, bagaimana bisa anggota teroris dapat bermukim, berkegiatan, dan menyusun kekuatan di Gang Asem. Padahal, banyak pengamat gencar melambungkan teori bahwa penetrasi jaringan terorisme di masyarakat cenderung dilakukan di lingkungan urban dengan banyak pendatang yang tidak saling mengenal.

Kaget

Warga dan aparat pemerintahan setempat pun kaget. Mereka sulit percaya ketika di gang sempit antara wilayah di RT 02 dan RT 03 RW 4, Pamulang Barat, Selasa (9/3) siang, polisi berkejar-kejaran dan menembak mati dua laki-laki yang diduga anggota teroris pengawal Dulmatin alias Yahya Ibrahim. Apalagi, menyusul terungkapnya fakta Fauzi Syarief, salah satu warga yang dikenal sebagai mantri langganan masyarakat, terduga terkait kelompok tersebut.

”Di Gang Asem, seperti halnya di kawasan lain di Tangerang, bisnis rumah petak dan kos-kosan memang tumbuh subur. Namun, di sini antarwarganya masih saling mengenal dan akrab,” kata Agus Safari, Kepala Seksi Pemerintahan Kelurahan Pamulang Barat, Rabu.

Menurut Agus, rata-rata pertumbuhan bangunan yang disewakan sampai 20 persen per tahun. Banyaknya rumah petak atau kos-kosan ternyata tidak berkorelasi dengan pesatnya jumlah penduduk.

Data dari Kelurahan Pamulang Barat menunjukkan, pada 2007, jumlah penduduk RW 4 sebanyak 659 keluarga atau 2.463 jiwa. Data terakhir Maret 2010, jumlah penduduk RW 4 tercatat 672 keluarga. Penambahan jumlah penduduk selama tiga tahun hanya 60-65 jiwa.

Agus menambahkan, eratnya kekerabatan antarwarga ditunjukkan dengan masih bertahannya sebagian penduduk asli Betawi. Keluarga besar Fauzi Syarief, misalnya, masih menetap di sekitar Gang Asem.

Hanya berjarak satu rumah di belakang kediaman Fauzi, menetap dua sepupu mantri yang juga pegawai negeri sipil di Tangerang ini. Salah satu sepupu itu dikenal warga dengan sebutan Mpok Wanda. Ibunda Fauzi kini menetap di Jalan Salak Raya, sekitar 1 kilometer dari Gang Asem.

Fauzi bersama istrinya dikenal sebagai warga yang dulu aktif berkegiatan sosial di kampungnya, terutama pengajian. Namun, sejak dua tahun lalu, keluarga Fauzi menarik diri dari pengajian warga kampung. Ia kemudian memilih mengadakan pengajian sendiri dengan mengundang jemaah dari luar kampung.

Perubahan perilaku Fauzi dan keluarganya ini sempat mengundang kecurigaan tetangganya.

”Yang datang pada pakai jenggot dan baju gamis, celana gantung. Tetapi, Pak Fauzi sendiri masih ramah suka menyapa, anaknya juga biasa main dengan anak kami,” kata Meri (30), tetangga yang rumahnya persis bersebelahan dengan rumah keluarga Fauzi.

Merasa Fauzi adalah orang lama di kampung itu dan secara umum bersikap baik, para tetangga pun hanya menyimpan kecurigaan mereka.

”Permakluman warga ini bukan disebabkan tidak saling kenal, tetapi justru karena merasa ia adalah warga lama. Tetangga-tetangga, termasuk saya, yang sudah kenal dia sejak dulu, juga tidak pernah berpikir buruk karena toh dia adalah saudara si ini si itu, yang masih kami kenal juga,” kata Agus.

Bagi Agus, situasi tersebut kemungkinan besar dimanfaatkan oleh para teroris, seperti Dulmatin. Terbukti, sudah hampir satu tahun kelompok Dulmatin menetap di sekitar Gang Asem tanpa membuat warga sekitar terusik.

Diminta proaktif

Peristiwa di Gang Asem dan Jalan Siliwangi, tepatnya di warnet Multiplus, menyadarkan aparat pemerintahan setempat bahwa ada yang salah dalam sistem pengamanan wilayah mereka. Untuk itu, pada Rabu kemarin, semua ketua RT dan RW dipanggil mengikuti rapat di Kelurahan Pamulang Barat.

Rapat dipimpin oleh Camat Pamulang Firdaus, Lurah Pamulang Muhammad Sarwo Edi, dan Kepala Kepolisian Sektor Metro Pamulang Ajun Komisaris Agus Widar.

Dalam rapat, Kepala Polsek Pamulang mengatakan, kelanjutan kasus penyergapan teroris memang tugas Polri. Pihaknya hanya fokus mengamankan wilayah Pamulang. Untuk itu, diperlukan kerja sama antaraparat pemerintah setempat agar suasana kondusif.

Camat Pamulang menambahkan, pengurus lingkungan diminta meningkatkan kewaspadaan dan sikap proaktif untuk melaporkan hal-hal yang mencurigakan. Ketua RT dan RW diharapkan lebih sensitif memantau dan melaporkan kegiatan warga yang berjalan rutin serta melibatkan atau mengundang banyak orang di luar warga kampung. (NEL/PIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau